Aksara Murda dan Pasangannya

Aksara Murda

Aksara Murda – Aksara Jawa adalah turunan berasal dari type aksara Brahmi. Jenis aksara ini memang telah lama digunakan terhadap banyak variasi wilayah di kalangan Nusantara.

Di antara wilayah yang menggunakan type aksara ini adalah Pulau Jawa, Makasar, Sunda, Melayu, Sasak dan juga lazim dipakai untuk penulisan type karya sastra yang menggunakan bhs Jawa.

Untuk awal mula pemakaian berasal dari aksara Jawa sendiri telah memadai lama apalagi sejak abad ke 17 Masehi terhadap jaman berdirinya kerajaan Mataram Islam. Pada jaman berikut pula ditetapkan abjad Hanacaraka atau carakan yang dikenal hingga hari ini.

Kemudian di abad 19 Masehi barulah aksara Jawa dibikin dalam bentuk cetakan. Aksara Jawa memang merupakan gabungan berasal dari aksara Abugida dan termasuk aksara Kawi.

Berdasarkan terhadap struktur berasal dari tiap-tiap huruf yang setidaknya mewakili dua buah berasal dari abjad aksara di dalam bentuk huruf latinnya. Hal inilah yang jadi bukti bahwa aksara Jawa memang merupakan gabungan berasal dari ke dua aksara yang disebutkan itu.

Di antara contohnya adalah Ha yang jadi perwakilan berasal dari huruf H dan termasuk A. Kedua suku kata yang bisa dibilang utuh dibandingkan bersama dengan kata Hari. Kemudian aksara Na yang merupakan gabungan berasal dari huruf N dan A.

Ini termasuk jadi suku kata yang utuh dibandingkan bersama dengan kata Nabi. Oleh sebab itu, cacah huruf yang terkandung terhadap sebuah penulisan kata yang disingkat jika dibandingkan bersama dengan tata langkah menulis dalam bentuk aksara latin.

Sebagaimana type aksara Hindi, dalam bentuk yang orisinil, tata langkah untuk menulis aksara Jawa yakni Jawa Hanacaraka adalah bersama dengan langkah menggantung atau diberi garis di sisi bawah.

Lalu, berasal dari kala ke kala seiring bersama dengan berjalannya kala terkandung modifikasi, tepatnya di jaman modern dimana para guru mengajarkan Hanacaraka bersama dengan penulisan aksara yang berada di atas garis.

Aksara Jawa

Di dalam aksara Jawa atau Hanacaraka terkandung beberapa tata langkah penulisan. Juga terkandung beberapa unsur dan juga ketentuan yang lainnya.

Dengan menyebutkan tiap-tiap huruf dan juga ketentuan itu, dikehendaki nanti bisa memudahkan pembelajaran atau sistem jelas tata langkah penulisan Aksara Jawa sebelum lantas praktek menulis.

Oleh sebab itu, terhadap pembahasan kali ini dapat didahulukan mengenai penjelasan basic berasal dari aksara Jawa lebih-lebih dahulu.

Untuk orang yang belum mengenal aksara Jawa, maka dibutuhkan catatan spesifik layaknya ulasan berikut ini.

  • Ha jadi wakil untuk fonem /a/dan/ha/. Jika aksara ini berada terhadap anggota depan sebuah kata, dapat dibaca bersama dengan /a/. Namun ketentuan ini tidaklah berlaku untuk nama atau type kata bhs asing selain berasal dari bhs Jawa asli.
  • Da di dalam penulisan Jawa latin digunakan untuk anggota /d/ dental dan juga meletup dimana posisi lidahnya tersedia di anggota belakang pangkal gigi seri atas lantas diletupkan. Untuk /d/ ini tidak serupa sekali berasal dari bhs Melayu atau Indonesia.
  • Dha di dalam bentuk penulisan Jawa latin digunakan untuk type d-retofleks dimana posisi lidah bersama dengan /d/ untuk bhs Melayu ataupun Indonesia namun bersama dengan bunyi yang diletupkan.
  • Tha di dalam bentuk penulisan Jawa latin digunakan untuk t-retofleks dimana posisi lidahnya serupa bersama dengan /d/ namun untuk pengucapannya tidak diberatkan. Untuk bunyi yang satu ini terlalu serupa bersama dengan orang yang memiliki aksen Bali di dalam menyuarakan huruf “t”.

Adapun arti berasal dari aksara Jawa adalah sebagai berikut:

  • Ha adalah hana hurup wening suci yang arti dalam bhs Indonesianya adalah ada hidup merupakan tekad berasal dari Tuhan yang Maha Suci.
  • Na maknanya adalah Nur Candra atau warsitaning Candara yang artinya adalah pengharapan berasal dari manusia yang selamanya berharap sinar berasal dari Ilahi.
  • Ca merupakan cipta weding, cipta dadi, cipta mandulu yang artinya adalah suatu arah dan juga target berasal dari Sang Maga Tunggal.
  • Ra merupakan rasaingsun handulusih yang maknanya adalah cinta sejati yang nampak berasal dari cinta kasih dalam nurani.
  • Ka merupakan karsaningsun memayuhayuning bawana yang maknanya adalah sebuah keinginan yang diarahkan untuk sebuah kesejahteraan alam.
  • Da merupakan dumadining Dzat kang tanpa winangenan yang artinya adalah menerima kehidupan ini bersama dengan apa adanya.
  • Ta merupakan tatas, tutus, titis, titi lan wibawa yang artinya adalah suatu hal yang mendasar, totalitas, satu visi, kecermatan di dalam menyaksikan sebuah hidup.
  • Sa merupakan suram ingsun handulu sifatullah yang artinya adalah pembentukan kasih sayang sebagaimana kasihnya Tuhan.
  • Wa merupakan bentuk hana tan kena kinira yang artinya adalah pengetahuan manusia yang cuma terbatas dapat namun untuk implementasinya terlalu tidak terbatas.
  • La merupakan lir handaya paseban jati yang artinya adalah menggerakkan hidup hanya cuma untuk memenuhi tuntutan berasal dari Tuhan.
  • Pa merupakan papan kang tanpa kiblat yang artinya adalah hakihat Tuhan yang sejatinya tersedia tanpa arah.
  • Dha merupakan duwur wekasane endek wiwitane yang artinya adalah untuk bisa raih puncak wajib di awali berasal dari dasarnya atau berasal dari bawah lebih-lebih dahulu.
  • Ja merupakan jumbuhing kawula lan gusti yang artinya adalah selamanya berusaha untuk mendekati Tuhan dan jelas tekad Tuhan.
  • Ya merupakan percaya marang sembarang tumindak kang dumadi yang maknanya adalah percaya terhadap ketetapan dan kudrat Ilahi.
  • Nya merupakan nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki yang artinya adalah jelas sunnatullah atau kodrat berasal dari kehidupan ini.
  • Ma merupakan madep mantep manembah maring Ilahi yang artinya adalah mantap di dalam menyembah Tuhan.
  • Ga merupakan guru sejati sing muruki yang artinya adalah pembelajaran kepada guru nurani.
  • Ba merupakan bayu sejati kang andalani yang artinya adalah menyelaraskan diri kepada gerak gerik berasal dari alam.
  • Tha merupakan tukul saka tekad yang artinya adalah segala suatu hal wajib tumbuh dan di awali bersama dengan niat.
  • Nga merupakan ngracut busananing manungso yang artinya adalah melepaskan ego pribadi terhadap manusia.

Aksara Carakan

Aksara Carakan merupakan type aksara yang paling mendasar dalam mempelajari aksara Jawa. Jika disaksikan berasal dari namanya saja telah bisa dimengerti bahwa type aksara ini adalah untuk menuliskan kata-kata.

Penting untuk jadi pengetahuan bahwa tiap-tiap berasal dari aksara Carakan ini memiliki bentuk beserta pasangannya. Aksara pasangan berikut digunakan untuk mematikan atau menghalau bentuk vokal berasal dari aksara yang sebelumnya.

Supaya Anda lebih enteng dalam jelas perihal ini, mutlak untuk dijelaskan mengenai ketentuan pasangan di dalam aksara Carakan beserta langkah untuk mengucapkannya. Jenis aksara ini terbagi jadi beberapa huruf yang kala ini dikenal sebagai Hanacaraka.

Pasangan Aksara Jawa

Untuk aksara Jawa berikut pasangannya dapat dijelaskan terhadap peluang berikut ini. Pasangan sendiri merupakan bentuk spesifik yang terkandung terhadap aksara Jawa untuk menghalau ataupun mematikan suatu vokal berasal dari bentuk aksara yang sebelumnya.

Aksara pasangan ini dapat digunakan untuk menulis bentuk suku kata yang di dalamnya tidak tersedia vokal.

Contoh Penggunaan Pasangan Aksara Jawa

Adapun perumpamaan pemakaian pasangan dalam aksara Jawa adalah kata “mangan sega” (makan nasi). Agar kata-kata berikut tidak dibaca manganasega, maka wajib mematikan atau menghalau huruf na. Adapun langkah untuk menghalau huruf Na berikut adalah bersama dengan mengimbuhkan pasangan yang ditaruh terhadap huruf se. Dengan demikian, langkah membaca aksara Jawa berikut adalah “mangan sega”.

Aksara Swara

Aksara Swara merupakan type aksara yang digunakan untuk menuliskan type huruf vokal yang berasal berasal dari bentuk kata serapan berasal dari bhs asing agar pelafalannya jadi lebih tegas.

Sandangan Aksara Swara

Setelah mengenal apa itu aksara Swara, mutlak untuk diulas mengenai sandangan aksara Swara sebab ternyata banyak orang yang kebingungan membedakan antara aksara Swara bersama dengan sandangan.

Sandangan merupakan bentuk huruf vokal yang tidak berdiri sendiri dan digunakan ketika berada di anggota sedang berasal dari kata. Sedanghkan di dalam sandangan dapat dibedakan berdasar terhadap langkah membacanya.

Untuk aksara Swara ini termasuk tidak serupa bersama dengan type aksara-aksara yang lain. Ia termasuk dilengkapi bersama dengan pasangan. Aksara Swara termasuk memiliki beberapa ketentuan penulisan yang mutlak untuk diperhatikan. Berikut rinciannya:

* Aksara Swara tidak bisa dijadikan sebagai bentuk aksara pasangan.
* Apabila aksara Swara mendapatkan sigegan atau konsonan yang tersedia terhadap akhir suku kata yang sebelumnya, maka sigegan itu wajib dimatikan bersama dengan yang namanya pangkon.
* Aksara Swara bisa diberikan suatu sandangan wignyan, cecak, wulu, suku, dan lain sebagainya.

Aksara Rekan

Penting untuk dicatat bahwa bermacam bentuk huruf yang terkandung dalam hanacaraka tidak bisa memenuhi kepentingan penulisan sejumlah kata yang asalnya berasal dari Negara lain.

Sebagai solusi atas perihal ini, maka dibuatlah suatu bentuk aksara teman yang dalam perihal ini banyak tergoda oleh bhs Arab.

Hal ini dikenal bersama dengan aksara Rekan. Aksara Rekan sendiri merupakan type aksara yang dipakai untuk penulisan huruf serapan yang asalnya adalah berasal dari bhs Arab. Misalnya saja huruf f, kh, dz dan lainnya.

Aksara type ini dipakai untuk menuliskan konsonan yang terkandung terhadap kata-kata asing yang tetap sesuai bersama dengan bentuk aslinya.

Aksara Rekan yang terkandung di dalam Hanacaraka ini terkandung lima bentuk. Dan seluruh memiliki pasangan masing-masing. Adapun untuk ketentuan penulisannya termasuk tidak serupa bersama dengan yang lain. Berikut rinciannya,

* Tidak seluruh aksara Rekan yang tersedia memiliki pasangan. Pasangan dalam aksara ini hanya Fa dan yang lainnya tidak punya.
* Aksara Rekan sejatinya dalam praktiknya bisa diberikan pasangan.
* Aksara Rekan termasuk bisa diberikan sandhangan layaknya aksara-aksara lain di dalam Hanacaraka.

Contoh Aksara Rekan

Dengan mempelajari perumpamaan aksara Rekan, Anda dapat makin lama enteng dalam jelas langkah penulisan yang benar berasal dari suku kata dan bhs yang berasal berasal dari Negara lain layaknya Arab.

Contoh aksara Rekan ini memang memadai rumit dan susah sebab tidak tercover di dalam Hanacaraka. Namun jika telah jelas contohnya, tentu dapat makin lama memudahkan Anda, lebih-lebih yang tetap jadi pemula dalam jelas aksara Jawa.

Aksara Murda

Aksara Murda dan Pasangannya

Secara lebih mudahnya, aksara Murda merupakan sejenis huruf kapital di dalam type aksara Jawa. Aksara Murda ini secara spesifik dipakai untuk menulis type huruf depan suatu nama orang, nama tempat, atau kata-kata lain yang awalannya kenakan huruf kapital.

Di samping itu, type aksara ini termasuk dipakai di awal sebuah kata-kata atau awal sebuah paragraf.

Di antara faedah berasal dari aksara ini adalah untuk menuliskan nama gelar, nama orang, nama geografi, nama lembaga pemerintahan, dan juga nama lembaga yang berbadan.

Karena kata-kata berikut di dalam bhs Indonesianya menggunakan huruf besar, maka dalam bhs Jawa menggunakan aksara spesifik yang dikenal bersama dengan aksara Murda ini.

Namun, mutlak untuk dijadikan cacatan bahwa tidak seluruh aksara yang terkandung di Hanacara terkandung bentuk aksara Murdanya. Setidaknya cuma tersedia delapan buah aksara Murda. Aksara ini termasuk memiliki bentuk pasangan tersendiri yang faedah atau kegunaannya serupa bersama dengan pasangan di dalam aksara Jawa.

Contoh Aksara Murda

Aksara Murda memang tidak begitu susah di dalam penulisannya. Dengan dilengkapi bersama dengan perumpamaan tersendiri, ini dapat membantu Anda dalam belajar aksara Jawa agar jadi lebih mahir. Khususnya kala menjumpai bermacam huruf kapital atau suku kata yang kenakan huruf besar.

Untuk ketentuan penulisannya sendiri, aksara Murda ini memang nyaris serupa bersama dengan penulisan aksara pokok di dalam Carakan. Namun tersedia beberapa ketentuan tambahan, berikut aturannya.

* Aksara Murda tidak bisa dijadikan sebagai sigeg atau yang biasa dikenal bersama dengan konsonen penutup untuk type suku kata.
* Apabila ditemui bentuk aksara Murda yang jadi sigeg, maka wajib dituliskan bentuk aksara pokoknya.
* Jika di dalam satu suku kata atau kata-kata terkandung lebih berasal dari satu bentuk aksara Murda, maka terkandung dua ketentuan yang bisa dipakai. Yaitu bersama dengan mencantumkan aksara murda untuk yang terdepan saja atau bersama dengan menuliskan seluruh aksara Murda yang ditemui.

Aksara Wilangan

Adapun pengertian berasal dari aksara wilangan atau yang dikenal bersama dengan bilangan merupakan sebuah aksara yang dipakai untuk menulis type angka di dalam aksara Jawa.

Angka sendiri digunakan untuk tunjukkan suatu lambang bilangan atau nomor. Angka di sini bisa berjenis ukuran, luas, berat, panjang, nilai uang, satuan kala dan lain sebagainya.

Berbagai type kuantitas penulisan angka ini dijalankan bersama dengan mengapitkan tanda yang tersedia terhadap pangkat terhadap anggota awal dan juga akhir berasal dari penulisan angka.

Untuk penulisan satuan di dalam sebuah bilangan, satuan berikut bisa ditulis di dalam bentuk kata lengkapnya. Misalnya saja kilometer, meter, kilogram dan lain sebagainya.

Tanda Baca Aksara Jawa

Setelah jelas secara mendetail mengenai huruf dan termasuk bilangan dalam aksara Jawa, sesudah itu dapat diulas mengenai ketentuan di dalam penulisan aksara Jawa sendiri. Tanda baca atau pratandha dalam aksara Jawa dibutuhkan untuk penulisan aksara Jawa.

Aksara Jawa sendiri memiliki beberapa macam bunyi yang tidak serupa kala diucapkan. Hal itu terkait terhadap tiap-tiap kata yang ditulis kenakan aksara tersebut.

Misalnya saja a bisa dibaca a terhadap type kata papat dan bisa termasuk dibaca a terhadap kata lara. Aturan berikut termasuk diberlakukan terhadap bunyi e yang memiliki beberapa varian bunyi di dalam pengucapannya.

Di dalam hanacaraka sendiri, tersedia beberapa tanda baca di dalam penulisan aksara tersebut. Di dalam perangkat lunak, tersedia empat buah tanda baca yang wajib diketahui.

Yang digunakan terhadap adeg-adeg adalah di anggota depan kata-kata di tiap-tiap alineanya.

Untuk terhadap adeg ini digunakan untuk berarti anggota yang spesifik terhadap sebuah teks yang wajib untuk diperhatikan, untuk perihal ini nyaris serupa bersama dengan type tanda baca kurung.

Adapun terhadap lingsa sendiri digunakan di akhir anggota kata-kata sebagai sebuah tanda intonasi yang tetap setengah selesai. Tanda ini setara atau sesuai bersama dengan tanda koma.

Selanjutnya adalah terhadap lungsi yang digunakan terhadap akhir sebuah kalimat. Tanda baca satu ini terlalu setara bersama dengan tanda titik.

Pangkat ini memiliki beberapa faedah di dalamnya. DI antaranya adalah untuk akhir pernyataan lengkap jika diikuti bersama dengan beberapa type rangkaian. Selain itu termasuk digunakan untuk pangkat yang mengapit suatu petikan langsung.

Belajar teori penulisan aksara Jawa sendiri tidaklah cukup, wajib dijalankan usaha untuk belajar menuliskan aksara Jawa. Untuk bisa menuliskan aksara Jawa sendiri, belajar teorinya saja tidak cukup.

Anda termasuk wajib mempelajari tips dan langkah untuk menulisnya. Nah, video berikut ini dapat memudahkan Anda di dalam sistem belajar menuliskan aksara Jawa bersama dengan cepat dan praktis.

Berbagai tutorial berasal dari tiap-tiap aksaranya tercantum dalam video ini agar bisa mempercepat sistem belajar Anda.

Belajar Membaca Aksara Jawa dan Aksara Murda

Penting untuk dicatat bahwa aksara Jawa memiliki memadai banyak bunyi yang tentu saja dapat tidak serupa dalam perihal pengucapannya. Hal itu ditentukan atau terkait bersama dengan tiap-tiap kata yang dituliskan bersama dengan aksara tersebut.

Misalnya a bisa dibaca bersama dengan a terhadap kata papat dan bisa termasuk a terhadap kata lara. Aturan yang serupa termasuk terkandung terhadap huruf e.

Membaca aksara Jawa ini tentu lebih susah dibandingkan bersama dengan belajar membaca bhs Inggris. Sehingga Anda wajib terlalu jeli dan bersabar selama sistem berlatih membaca aksara Jawa.

Dan untuk bisa lancar di dalam sistem membaca aksara Jawa, Anda wajib berlatih membaca tiap-tiap hari bersama dengan sesering mungkin. Kebiasaan membaca dapat membantu Anda mengingat bermacam komponen di dalamnya, termasuk tanda baca dan lain sebagainya.

Alangkah baiknya sistem belajar membaca aksara Jawa ini diimbangi bersama dengan banyak menulis agar dapat makin lama mempermudah sistem belajar agar bisa jadi lebih lancar.

Sejarah Asal Usul Aksara Jawa dan Aksara Murda

Banyak orang yang penasaran bersama dengan peristiwa berasal dari aksara Jawa sendiri. Sebenarnya, tersedia beberapa legenda berasal dari aksara Jawa yang hingga hari ini tetap dikenal apalagi diajarkan di sekolah-sekolah. Berikut ini dapat dibahas mengenai beberapa peristiwa timbulnya aksara Jawa itu sendiri.

Terdapat seorang ksatria hebat yang asalnya berasal dari tanah Jawa. Namanya adalah Aji Saka. Ia mempunyai seorang abdi yang terlalu setia kepadanya.

Abdi berikut bernama Sembada dan Dora. Pada suatu masa, Aji Saka melaksanakan sebuah perjalanan ke salah satu kerajaan bernama Medang Kamulan yang kala itu sedang diperintah oleh seorang raja yang suka memakan daging manusia. Adapun nama berasal dari raja berikut adalah Prabu Dewata Cengkar.

Prabu Dewata Cengkar tiap-tiap harinya menghendaki kepada para pelayan dan juga plajuritnya untuk selamanya menghidangkan daging manusia sebagai makanan pokok tiap-tiap hari.

Ini membawa dampak masyarakat resah dan sebab itu, Aji Saka memiliki inisiatif untuk melawan sang saja berikut bersama dengan keduanya abdinya.

Cerita singkatnya, Aji Saka hingga terhadap pinggiran hutan dan telah masuk ke kawasan kekuasaan Medang Kamulan.

Sebelum ia terlalu masuk ke kawasan kerajaan tersebut, Aji Saka memerintahkan kepada abdi yang namanya Sembada untuk selamanya tinggal di sana bersama dengan menjaga keris pusaka yang dimiliki Aji Saka.

Ia lantas berpesan agar keris berikut dijaga bersama dengan benar-benar dan tidak boleh diberikan kepada barang siapa jika kepada Aji Saka. Sedangkan Dora yang merupakan abdi ke dua diajak oleh Aji Saka untuk menghadap ke Prabu Dewata Cengkar.

Setelah bersua dan menghadap langsung ke Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka membawa dampak suatu kesepakatan bersama dengan raja tersebut.

Ia bersedia dimakan oleh sang raja bersama dengan sebuah syarat. Syaratnya adalah Sang Prabu wajib menyerahkan tempat kekuasaannya seluas sorban yang dikenakan oleh Aji Saka.

Akhirnya Prabu pun mengiyakan dan menerima syarat tersebut. Lalu Aji Saka pun memohon kepada Prabu Dewata Cengkar untuk mengukur tanah yang dijanjikan bersama dengan langkah memegang salah satu anggota ujung surban. Dan anggota ujung surban yang lain dipegang oleh Aji Saka.

Prabu Dewata Cengkar mulai menarik surban berikut dan lantas jadi terbentang. Sang Prabu tetap bergerak muncur dan memanjangkannya. Ia mulai terhubung surban agar jadi terbentang.

Dengan kesaktian yang dimiliki, ternyata surban berikut tak habis-habis ketika dibuka. Prabu pun tetap terjadi untuk membentangkannya. Kemudian sampailah sang prabu di tepi sebuah laut jurang batu yang terjal dan termasuk dalam.

Dengan terlalu cepat, Aji Saka pun menggoyangkan surban yang ia memiliki berikut dan pada akhirnya sang Prabu terlempar ke sedang laut.

Akhirnya ia pun mati setelahnya. Semua rakyat bersuka cita dan menjadikan Aji Saka sebagai rajanya. Setelah beberapa kala jadi seorang raja, Aji Saka pun lupa dapat kerisnya yang ia tinggal dan titipkan kepada Sembada.

Ia pun menghendaki Dora agar mengambil alih keris tersebut. Akhirnya, Dora berangkat untuk mengambil alih kerisnya dan sampailah di tempat Sembada berada.

Pada awal pertemuan, mereka berbincang saling mempertanyakan kabar masing-masing. Kemudian pembicaraan pun berlanjut kepada Dora yang menghendaki keris pusaka berikut untuk diberikan kepada Aji Saka.

Namun, Sembada ingat betul bagaimana pesan yang disampaikan oleh Aji Saka kepadanya bahwa ia tidak boleh mengimbuhkan keris berikut kepada barang siapa jika Aji Saka.

Akhirnya, Sembada pun menolak permintaan Dora untuk menyerahkan keris tersebut. Sementara Dora sendiri wajib taat kepada perintah rajanya.

Dan pada akhirnya mereka berdua sama-sama tidak mau mengalah satu serupa lain demi menjaga amanah yang diterima.

Merekapun bertengkar dan adu kapabilitas satu serupa lain. Karena kapabilitas dan juga kesaktian mereka sma, keduanya pun mati bersama-sama. Sesudah itu, kabar kematian berikut pada akhirnya didengar oleh Aji Saka.

Karena kecerobohan yang dibikin olehnya, dua abdinya wajib mati.

Ia terlalu menyesal atas perihal itu. Agar bisa menghargai dua abdi yang mati sebab menjaga amanah tersebut, Aji Saka pun membawa dampak barisan huruf dan termasuk alphabet yang kala ini dikenal sebagai aksara Jawa.

  • Ha Na Ca Ra Ka (terdapat dua orang utusan atau carakan)
  • Da Ta Sa Wa La (saling berperang untuk mempertahankan sebuah amanah)
  • Pa Dha Ja Ya Nya (lantaran keduanya sama-sama dalam tingkat kesaktian)
  • Ma Dha Ba Tha Nga (maka keduanya mati manjadi bangkai)

Aksara Jawa memang memiliki cakupan yang luas dan memadai rumit untuk dipelajari. Namun wajib tetap dipelajari agar aksara Jawa ini tidak punah dan selamanya hidup di tengah-tengah kekayaan budaya Nusantara.

Pengajaran aksara Jawa sendiri termasuk wajib dijalankan secara intens agar anak-anak usia sekolah memiliki perhatian besar terhadap aksara ini.

Itulah beberapa ulasan mengenai aksara Jawa dan beberapa pasangannya dan juga ulasan peristiwa munculnya. Dengan mempelajari aksara Jawa, tentu Anda mempertahankan budaya yang telah nampak sejak dahulu kala.

Dan budaya berikut tidak dapat punah dan selamanya lestari hingga nanti. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *