Aksara Sunda , Inilah Sejarah Dan Pengertiannya !

aksara sunda

aksara sunda – Bahasa Sunda Purba atau bhs sunda kuno sanggup kami pelajari dari Aksara Sunda Asli. Yaitu sebuah media visual yang tertera terhadap kertas maupun media lainnya (batu, kayu, kain, dll) untuk mengutarakan unsur-unsur yang ekspresif dalam suatu bahasa.

Sejarah Aksara Sunda

Aksara Sunda disebut pula aksara Ngalagena. Menurut catatan peristiwa aksara ini udah dipakai oleh orang Sunda dari abad ke -14 sampai abad ke- 18. Jejak aksara ini sanggup dicermati terhadap Prasasti Kawali atau disebut juga Prasasti Astana Gede yang dibuat untuk mengenang Prabu Niskala Wastukancana yang memerintah di Kawali, Ciamis, tahun 1371-1475. Prasasti Kebantenan yang termaktub dalam lempengan tembaga, berasal dari abad ke-15, juga kenakan Sunda Kuno.

Setidaknya sejak Abad IV penduduk Sunda udah lama mengenal aksara untuk menuliskan bhs yang mereka gunakan. Namun demikianlah terhadap awal masa kolonial, penduduk Sunda dipaksa oleh penguasa dan keadaan untuk meninggalkan penggunaan Aksara Sunda Kuna yang merupakan tidak benar satu identitas budaya Sunda. Keadaan yang terjadi sampai masa kemerdekaan ini sebabkan punahnya Aksara Sunda Kuna dalam normalitas tulis penduduk Sunda.

Pada akhir Abad XIX sampai pertengahan Abad XX, para peneliti berkebangsaan asing (misalnya K. F. Holle dan C. M. Pleyte) dan bumiputra (misalnya Atja dan E. S. Ekadjati) merasa meneliti keberadaan prasasti-prasasti dan naskah-naskah tua yang memanfaatkan Aksara Kuna. Berdasarkan atas penelitian-penelitian sebelumnya, terhadap akhir Abad XX merasa timbul kesadaran bakal ada sebuah Aksara  yang merupakan identitas khas penduduk Sunda. Oleh dikarenakan itu Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Barat memastikan Perda No. 6 tahun 1996 perihal Pelestarian, Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara  yang kelak digantikan oleh Perda No. 5 tahun 2003 perihal Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah.

Pada tanggal 21 Oktober 1997 diadakan Lokakarya Aksara  di Kampus UNPAD Jatinangoryang diadakan atas kerja sama Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat dengan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Kemudian hasil rumusan lokakarya tersebut dikaji oleh Tim Pengkajian Aksara . Dan akhirnya terhadap tanggal 16 Juni 1999 muncul Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 343/SK.614-Dis.PK/99 yang memastikan bahwa hasil lokakarya serta pengkajian tim tersebut diputuskan sebagai Aksara  Baku.

Saat ini Aksara Sunda Baku merasa diperkenalkan di kepada lazim pada lain lewat sebagian acara kebudayaan daerah yang diadakan di Bandung. Selain itu, Aksara Sunda Baku juga digunakan terhadap papan nama Museum Sri Baduga, Kampus Yayasan Atikan Sunda dan Kantor Dinas Pariwisata Daerah Kota Bandung. Langkah lain juga diambil alih oleh Pemerintah Daerah Kota Tasikmalaya yang memanfaatkan Aksara Sunda Baku terhadap papan nama jalan-jalan utama di kota tersebut.

Namun demikian, setidaknya sampai akhir tahun 2007 Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Jawa Barat belum juga mewajibkan para siswa untuk mempelajari Aksara Sunda Baku sebagaimana para siswa tersebut diwajibkan untuk mempelajari Bahasa Sunda. Langkah memperkenalkan aksara daerah mungkin bakal sanggup lebih meraih sasaran kalau Aksara Sunda Baku dipelajari sejalan dengan Bahasa Sunda. Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Lampung dan Propinsi Jawa Tengah udah jauh-jauh hari mengerti perihal ini dengan mewajibkan para siswa Sekolah Dasar yang mempelajari bhs daerah untuk juga mempelajari aksara daerah.

Peninggalan yang berkaitan dengan peristiwa bhs sunda kuno

 

 

Prasasti Kawali dengan aksara Sunda Kuno:

Tak tersedia bukti yang mengerti perihal awal mula aksara Sunda lahir, sejak kapan nenek moyang orang Sunda memanfaatkan aksara ini. Yang jelas, sebelum abad ke-14, biasanya prasasti dan kropak (naskah lontar) ditulis dalam aksara lain, seperti aksara Pallawa (Prasasti Tugu abad ke-4) dan aksara Jawa Kuno (Prasasti Sanghyang Tapak abad ke-11). Bahasanya pun Sansekerta dan Jawa Kuno apalagi Melayu Kuno. Baru terhadap abad ke-14 dan seterusnya, aksara Sunda sering dipakai dalam media batu/prasasti dan naskah kuno.

Sama seperti naskah-naskah kuno di Jawa, yang menjadi media naskah kuno Sunda adalah daun (ron) palem tal (Borassus flabellifer)—di sinilah lahir arti rontal atau lontar—atau juga daun palem nipah (Nipa fruticans), di mana masing-masing daunnya dihubungkan dengan seutas tali, sanggup seutas di tengah-tengah daun atau dua utas di sisi kanan dan kiri daun. Penulisan dikerjakan dengan menorehkan peso pangot, sebuah pisau khusus, terhadap permukaan daun, atau menorehkan tinta lewat pena. Tintanya dari jelaga, penanya dari lidi enau atau bambu. Biasanya peso pangot untuk huruf-huruf persegi, waktu tinta-pena untuk huruf-huruf bundar.

Naskah-naskah kuno Sunda yang kenakan aksara Sunda Kuno dan juga bhs Sunda Kuno

Carita Parahyangan (dikenal dengan nama register Kropak 406) yang ditulis terhadap abad ke-16. Ada perihal yang menarik dalam Carita Parahyangan ini, di mana di dalamnya terkandung dua kata Arab, yaitu dunya dan niat. Ini pertanda bahwa persebaran kosa kata Arab, dengan Islamnya, udah merasuk pula ke dalam alam bawah mengerti penulis carita tersebut. Begitu pula naskah Bujangga Manik dan Sewaka Darma yang ditulis terhadap masa yang tak jauh beda, yang keduanya mengisahkan perjalanan spiritual sang tokoh dalam menghadapi kematian, ketika raga wadag (tubuh) meninggalkan alam fana, yang dibungkus dalam sebuah proses religi campuran pada Hindu, Buddha, dengan kepercayaan Sunda asli. Judul yang lain adalah Sanghyang Sisksakanda (ng) Karesian (disebut pula Kropak 603), sebuah naskah perihal keagamaan dan kemasyarakatan yang ditulis terhadap 1518 M. Ada pula naskah Amanat Galunggung (disebut pula Kropak 632 atau Naskah Ciburuy atau Naskah MSA) yang naskahnya baru diketemukan 6 lembar, yang membicarakan perihal ajaran ethical dan etika Sunda. Usia naskah ini ditenggarai lebih tua dari Carita Parahyangan; perihal ini terbukti dari ejaannya, seperti kwalwat, gwareng, anwam, dan hamwa (dalam Carita Parahyangan dieja: kolot, goreng, anom, dan hamo).

Perbandingan pada Aksara Sunda Baku dan Sunda Kuna

Sebagaimana diungkapkan di atas, Aksara Sunda Baku merupakan hasil penyesuaian Aksara Sunda Kuna yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Sunda kontemporer. Penyesuaian itu pada lain didasarkan atas pedoman sebagai berikut:
bentuknya mengacu terhadap Aksara Sunda Kuna supaya keasliannya sanggup terjaga,
bentuknya simpel supaya mudah dituliskan,
sistem penulisannya berdasarkan pemisahan kata demi kata,
ejaannya mengacu terhadap Bahasa Sunda mutakhir supaya mudah dibaca.

Dalam pelaksanaannya, penyesuaian tersebut meliputi penambahan huruf (misalnya huruf va dan fa), pengurangan huruf (misalnya huruf re pepet dan le pepet), dan perubahan bentuk huruf (misalnya huruf na dan ma).

Berikut naskah Sewaka Darma :

Naskah-naskah keagamaan tersebut biasa ditulis di sebuah kabuyutan atau mandala, yaitu pusat keagamaan orang Sunda yang biasanya terletak di gunung-gunung, yang juga merupakan pusat intelektual. Gunung Galunggung, Kumbang, Ciburuy, dan Jayagiri merupakan semisal dari kabuyutan tersebut. Kini fungsi kabuyutan digantikan oleh pesantren.

Setelah islamisasi, keberadaan aksara ini tambah tergeser. Lambat-laun, aksara Arab-lah yang mendominasi dunia tulis menulis, yang dikenal dengan huruf pegon. Otomatis, para pujangga dan penulis tak ulang memanfaatkan aksara ini. Hal ini muncul dari penggunaan huruf Arab dalam naskah Sajarah Banten yang disusun dalam tembang macapat terhadap tahun 1662-1663, di mana Kesultanan Banten baru saja seabad berdiri. Naskah-naskah lain yang kenakan huruf pegon adalah Kitab Waruga Jagat dari Sumedang dan Pancakaki Masalah Karuhun Kabeh dari Ciamis yang ditulis terhadap abad ke-18, namun bhs yang digunakan adalah Jawa.

Pemakaian aksara ini tambah terkikis setelah aksara latin diperkenalkan oleh bangsa-bangsa Eropa terhadap masa kolonialisasi terhadap abad ke-17 sampai seterusnya. Tak cuma itu, penguasaan Mataram Sultan Agung atas wilayah-wilayah Sunda terhadap abad yang sama sebabkan sastra-sastra Sunda lahir dengan kenakan aksara Jawa atau Jawa-Sunda (carakan), bukan aksara ini. Contoh naskah Sunda yang ditulis menggunaka bhs dan aksara carakan adalah Babad Pakuan atau Babad Pajajaran yang ditulis terhadap 1816, di mana terkandung kisah Guru Gantangan, terhadap masa pemerintahan Pangeran Kornel (Aria Kusuma Dinata), Bupati Sumedang. Isi babad ini melukiskan pola pikir penduduk Sunda atas kosmologi dan hubungannya pada manusia sempurna dengan mandala kekuasaan.

Sistem Aksara Sunda
Aksara ini berjumlah 32 buah, terdiri atas 7 aksara swara atau vokal (a, é, i, o, u, e, dan eu) dan 23 aksara ngalagena atau konsonan (ka-ga-nga, ca-ja-nya, ta-da-na, pa-ba-ma, ya-ra-la, wa-sa-ha, fa-va-qa-xa-za). Aksara fa, va, qa, xa, dan za merupakan aksara-aksara baru, yang dipakai untuk mengonversi bunyi aksara Latin. Secara grafis, aksara ini bersifat persegi dengan ketajaman yang mencolok, cuma sebagian yang bersifat bundar.

Aksara swara adalah tulisan yang melambangkan bunyi fonem vokal independen yang sanggup berperan sebagai sebuah suku kata yang sanggup menduduki posisi awal, tengah, maupun akhir sebuah kata. Berikut tabel aksara swara Sunda:

Sedangkan aksara ngalagena adalah tulisan yang secara silabis diakui sanggup melambangkan bunyi fonem konsonan dan sanggup berperan sebagai sebuah kata maupun sukukata yang sanggup menduduki posisi awal, tengah, maupun akhir sebuah kata. Setiap konsonan diberi sinyal pamaeh supaya bunyi ngalagena-nya mati. Dengan begitu,aksara ini ini bersifat silabik, di mana tulisannya sanggup mewakili sebuah kata dan sukukata. Berikut tabel aksara ngalagena Sunda:

Ada pula para penanda vokal dalam aksara ini, yakni: panghulu (di atas), panyuku (di bawah), pemepet (di atas), panolong (di kanan), peneleng (di kiri), dan paneuleung (di atas). Berikut penanda vokal dalam proses aksara Sunda:

Selain pamaeh konsonan, tersedia pula variasi fonem akhiran, yaitu pengecek (akhiran –ng), pangwisad (akhiran –h), dan panglayar (akhiran –r). Ada pula fonem sisipan yang disimpan di tengah-tenngah kata, yaitu pamingkal (sisipan –y-), panyakra (sisipan –r-), dan panyiku (sisipan -l-). Berikut tabel variasi fonem sisipan dan akhiran beserta sinyal pamaeh dalam aksara ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *