Cara Menghilangkan Fikiran Negatif

cara menghilangkan fikiran negatif

cara menghilangkan fikiran negatif – Dalam meniti kehidupan sehari-hari kerap kali kita mesti hadapi berbagai tantangan. Tak jarang tantangan-tantangan yang ada itu mampu membuat kita terperangkap dalam sembilu negativitas. Sampai-sampai membuat stress yang tak berkesudahan. Dulu saat pertama kali membaca buku-buku semangat dan inspirasi tentang kesuksesan, bersama sekejap semangat dan mentalitas positif layaknya tertular ke dalam diri saya. Saya jadi begitu positif meniti kehidupan. Tapi saat kegagalan dan kebangkrutan berkunjung memporak-porandakan kehidupan, saya pun jadi sedih dan terperangkap dalam perasaan negatif. Tidak berdaya dan frustasi. Namun dalam hati saya selalu membatin, “Ah… seluruh ini tentu bakal berlalu.“ Ternyata hingga persoalan ini pun berlalu, pikiran saya layaknya terperangkap dalam kondisi berpikir negatif. Entah mengapa terlampau susah bagi pikiran saya untuk mampu berpikir positif, semangat dan antusiasme layaknya pernah lagi?

Cara Menghilangkan Fikiran Negatif

Mengapa kondisi negatif sepertinya lebih enteng merubah pikiran saya daripada kondisi yang positif?

Hal ini membuat saya bertanya-tanya benarkah demikian? Benarkah pikiran kita lebih enteng terperangkap dalam kondisi negatif daripada kondisi positif?

Teka-teki itulah yang bakal cobalah kita kupas habis pada tulisan renyah di sejuknya hari ini. Semoga sedikit banyak kita mampu mengambil alih pelajaran pun gagasan darinya.cara menghilangkan fikiran negatif

Penelitian Membuktikan…

Sebuah penelitian dilakukan oleh Alison Ledgerwood untuk mencari memahami jawaban pertanyaan tersebut.

Alison Ledgerwood adalah seorang Psikolog Sosial.

Latar belakang hingga akhirnya ia melakukan penelitian tersebut juga sebab apa yang berjalan dalam karirnya.

Sebagai seorang psikolog ia banyak membuat paper-paper hasil penelitian. Ketika paper-paper tulisannya diterima, ia jadi bahagia.

Dan setelah itu lagi normal menjelang makan siang.

Suatu hari saat papernya ditolak, ia jadi begitu sedih. Tapi berlainan bersama perasaan positif saat papernya di terima, perasaan negatif ini bertahan jauh lebih lama lagi.

Perasan sedih itu menggelayuti bahkan hingga berhari-hari.

Bahkan saat papernya yang lain diterima, perasaan positif itu tidak kunjung bergerak naik.

Maka diadakanlah penelitian untuk mencari memahami hal tersebut. Benarkah orang lebih enteng jadi negatif daripada jadi positif?

Bersama bersama rekan-rekannya, ia menghimpun lebih dari satu responden untuk diuji.

Responden dibagi ke dalam dua grup. Dan masing-masing kelompok dijelaskan suatu hal yang sama. Yakni tentang sebuah alat medis yang baru. Tapi bersama cara penyampaian yang berbeda.

Grup pertama dijelaskan bahwa alat medis ini memiliki tingkat keberhasilan pada kesembuhan pasien sebesar 70%.

Sementara responden di kelompok ke dua dijelaskan bahwa alat medis baru ini memiliki tingkat kegagalan sebesar 30%.

Dan ternyata hasilnya orang-orang di kelompok pertama menyukai alat medis baru ini. Sementara orang-orang di kelompok ke dua tidak menyukainya.

Tapi kemudian pernyataannya dibalik. Grup pertama dijelaskan lagi bahwa bersama 70% keberhasilan bermakna ada tingkat kegagalan sebesar 30%. Maka bersama dan juga merta mereka jadi tidak puas bersama alat baru ini.

Pada kelompok ke dua juga dijelaskan hal yang sama. 30% kegagalan bermakna ada tingkat keberhasilan sebesar 70%. Dan berlainan bersama responden di kelompok pertama, orang-orang di kelompok ke dua tidak beralih serupa sekali. Mereka selalu tidak menyukai peralatan medis baru ini.

Eksperiman Kedua…

Eksperimen ke dua kemudian dilakukan kembali.

Dengan pola yang persis serupa bersama eksperimen pertama. Responden dibagi ke dalam 2 kelompok dan dijelaskan tentang suatu hal yang serupa tapi bersama cara yang berbeda.

Kini responden diberitahu tentang kinerja pemerintah dalam mengatasi pengangguran.

Pada kelompok pertama orang diberitahu bahwa th. ini pemerintah berhasil sediakan lapangan pekerjaan dan berhasil menurunkan tingkat pengangguran sebesar 40%.

Dan orang-orang menyukainya. Mereka berpikir pemerintah udah berhasil.

Di kelompok kedua, disampaikan bahwa th. ini tetap ada 60% pengangguran yang belum dipekerjakan. Dan orang-orang jadi tidak puas bersama pemerintah.

Pernyataannya kemudian lagi dibalik. Di kelompok pertama disampaikan bahwa tetap ada 60% pengangguran yang belum dipekerjakan.

Dan orang-orang lagi-lagi jadi tidak suka.

Di kelompok ke dua ini, juga disampaikan bahwa setidaknya pemerintah berhasil kurangi tingkat pengangguran sebesar 40%.

Tapi tidak ada bedanya bersama percobaan pertama, orang-orang pun selalu tidak puas bersama pemerintah.

Dari dua hasil eksperimen ini membuktikan bahwa nampaknya sesungguhnya benar pikiran kita lebih enteng terperangkap dalam kondisi negatif ketimbang kondisi positif.

Orang-orang lebih enteng lihat gelas sebagai setengah kosong, daripada memandangnya sebagai setengah penuh.

Eksperimen Ketiga…

Maka dilakukanlah eksperimen ketiga.

Kali ini, eksperimen itu ditujukan untuk mencari memahami seberapa enteng orang merubah pikiran negatif ke positif. Begitupun sebaliknya.

Kembali responden dibagi ke dalam dua grup.

Dan diberitahu tentang tingkat keberhasilan sebuah operasi penyakit kanker.

Grup pertama diberi pertanyaan sederhana.

Jika 600 orang penderita kanker, dan 100 orang mampu diselamatkan nyawanya lewat operasi, maka berapa orang yang bakal meninggal?

Artinya orang-orang ini bakal berpikir berasal dari kondisi positif ke kondisi negatif. Dari yang diselamatkan ke yang meninggal.

Di kelompok ke dua pertanyaanya dibalik, kalau berasal dari 600 orang itu meninggal 100 orang. Maka berapa orang yang bakal berhasil diselamatkan?

Artinya disini, orang berpikir berasal dari kondisi negatif ke positif. Dari orang yang meninggal kepada orang yang diselamatkan.

Jawaban ke dua pertanyaan itu sama. Yakni 600 – 100 = 500. Tapi ternyata pas yang dibutuhkan oleh ke dua kelompok berbeda.

Orang-orang di kelompok pertama, yang berpikir berasal dari kondisi positif ke kondisi negatif, butuh pas kurang lebih 7 detik untuk menjawab.

Sementara orang di kelompok kedua, yang bergerak berasal dari kondisi negatif jadi positif, butuh pas kurang lebih 11 detik.

“Ini membuktikan bahwa begitu kita mengayalkan suatu hal sebagai kondisi negatif, cara berpikir semacam itu bakal merasuk di benak kita dalam pas yang lama. Sampai kita berusaha sekuat tenaga untuk mengubahnya.” Kata Alison.

Pertumbuhan Ekonomi Vs. Kepercayaan Konsumen

Sementara itu, tersebut grafik pertumbuhan ekonomi pada tingkat kepercayaan customer berasal dari th. 2007 hingga th. 2010.

Ketika pertumbuhan ekonomi terjun bebas ke bawah, kepercayaan customer pun mengalami penurunan drastis.

Tapi saat kondisi ekonomi udah lagi pulih, kepercayaan customer tidak kunjung memantul ke atas mengikuti grafiknya.

Justru kepercayaan customer layaknya terperangkap di level yang rendah.

Semua ini sekali lagi bukti bahwa pikiran kita lebih enteng menangkap kondisi negatif ketimbang kondisi positif.

Sangat enteng untuk beralih berasal dari kondisi positif ke kondisi negatif.

Tapi untuk mampu bangkit berasal dari kondisi negatif ke kondisi positif, dibutuhkan tenaga dan usaha yang tidak sedikit.

Kita mesti bersaha lebih kuat supaya mampu lihat suatu hal bersama cara yang positif.

Namun meski begitu, bukan tidak mungkin untuk jadi orang yang berpikir positif.

Kita mampu melatih pikiran kita untuk jadi biasa lihat gelas sebagai setengah penuh. Bukan setengah kosong.

Cara Menghilangkan Pikiran Negatif

Banyak cara yang mampu kita melakukan untuk itu.

Salah satunya yang paling efektif, menurut para ahli adalah bersama bersyukur.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa hanya bersama menulis hal-hal positif yang berjalan dalam hidup kita tiap-tiap harinya, mampu secara dramatis merubah hidup kita.

“Bersyukur adalah emosi manusia yang paling sehat.” Demikian kata motivator ternama Zig Ziglar.

Orang-orang yang memiliki rutinitas bersyukur di pagi hari, menurut hasil riset, condong lebih kuat dan tangguh dalam meniti tantangan demi tantangan kehidupan.

So, gimana menurut kamu? Udah siap menulis hal-hal positif dalam hidup? Tulis di komen ya!

Kesimpulan

Demikian tulisan renyah dan bergizi kali ini. Mudah-mudahan mampu menyuntikkan wawasan sekaligus semangat baru membuat kamu.

Bahwa kita selalu menggodok rutinitas bersyukur dan berpikir positif dalam hidup ini. Sehingga kita seluruh mampu hidup bersama lebih positif, sehat dan powerful.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *