Cara Penyembuhan Penyakit Lupus

cara penyembuhan penyakit lupus

cara penyembuhan penyakit lupus – Banyak hal yang aku dapatkan selama merintis sistem pendidikan menjadi seorang dokter. Namun, hal yang paling menancap di anggapan adalah bagaimana menjadi lebih peka terhadap masalah sosial. Ilmu selanjutnya justru aku dapatkan melalui tidak benar satu pasien wanita berusia 24 tahun, penyandang penyakit lupus. Sebut saja namanya Tanti.

Cara Penyembuhan Penyakit Lupus

Selalu tertanam dalam benak aku untuk menanggulangi pasien seperti keluarga sendiri. Setidaknya, itu yang aku rasakan saat merawat Tanti yang tergeletak tak berdaya di rumah sakit akibat penyakit lupus. Pada waktu itu, aku sedang merintis program spesialis penyakit dalam.cara penyembuhan penyakit lupus

Lupus sendiri adalah tidak benar satu penyakit autoimun, di mana sistem pertahanan tubuh menyerang organ tubuh penderita. Akibatnya, bakal tersedia banyak organ yang mengalami kerusakan, seperti otak, kulit, jantung, dan persendian. Gejala yang terlihat pun mampu ringan, sedang, hingga berat.

Sayangnya untuk masalah Tanti, penyakit lupus yang dideritanya lumayan berat. Saat berjumpa dengannya, ia sudah merintis perawatan selama lima hari di rumah sakit Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat. Ketika dikerjakan pemeriksaan, ia mengaku merasakan sakit kepala hebat dan badan yang menjadi lemas.Ternyata, penyakit lupus sudah dideritanya sejak lima th. silam. Kondisi tubuhnya pun sudah semakin parah. Bahkan, waktu masuk rumah sakit, nilai hemoglobin (Hb) Tanti merosot ke nilai 8 mg/dl, dari nilai normal di atas 12 mg/dl.

Meski demikian, Tanti tak dulu melepas penyakit lupus menghentikan usahanya dalam mengejar impian, bekerja sebagai diplomat. Hari-hari perawatan selalu diisinya dengan membaca. Walaupun tubuhnya terlihat benar-benar lemah, ia masih menorehkan senyuman tiap-tiap aku berkunjung memeriksa di pagi hari.

Pagi itu, Tanti masih mengeluh sesak napas, lemah dan badannya menjadi sakit. Ia hanya mampu terbaring lemah tak berdaya. Malam sebelumnya, tubuhnya mengalami kejang-kejang hingga lima menit. Kejadian selanjutnya mengharuskan kita bekerja sama dengan dokter saraf untuk melacak jelas penyebab kejang Tanti.

Kondisi ini termasuk yang sering aku alami saat merawat pasien lupus, gara-gara situasi tubuh penderita mampu naik dan turun gara-gara rentan terhadap infeksi. Kami termasuk diharuskan bekerja sama dengan dokter dari disiplin ilmu lain, gara-gara penyakit ini mampu menyerang berbagai organ.

Perjuangan yang tak mudah

Saya jelas bahwa penyakit lupus Tanti sudah banyak kuras energi, psikis, dan materi dari keluarganya. Sebab, pasien lupus perlu pemeriksaan secara berkala ke dokter untuk meraih pemeriksaan menyeluruh dan penyembuhan rutin. Belum lagi kalau tersedia serangan yang membawa dampak kondisinya semakin buruk.cara penyembuhan penyakit lupus

Berbagai hal inilah yang sering membawa dampak pasien lupus rentan mengalami gangguan psikis seperti depresi. Belum lagi, apabila pasien mesti merintis rawat inap. Tentunya ada problem ekonomi yang dialaminya lebih berat.

Sebagian pasien aku berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah. Bila tidak benar satu bagian keluarga sakit, maka bagian lainnya tidak mampu bekerja seperti hari biasa gara-gara mesti mendampingi selama perawatan. Apalagi kalau yang sakit adalah tulang punggung keluarga, tentunya bakal menjadi beban tersendiri bagi mereka.

Seperti penyakit dalam lainnya, penyakit lupus termasuk perlu perhatian khusus. Setiap harinya Tanti ditemani oleh ibundanya.

Bila malam tiba, ayahnya berkunjung untuk “jaga malam”. Secara bergantian, adiknya kadang-kadang pun mengambil alih ibunya untuk menemani Tanti di rumah sakit.

Pentingnya komunikasi dalam perawatan pasien

Memasuki minggu kedua, situasi Tanti tidak kunjung membaik, bahkan mampu dibilang cenderung memburuk. Kejang berulang yang dialaminya dan infeksi yang sudah menggerogoti parunya membawa dampak situasi Tanti lumayan kritis.

Kondisi medis Tanti terhadap waktu itu sebetulnya perlu perawatan di unit rawat intensif. Namun, keluarga menampik dan memilih pemasangan alat bantu napas. Kemungkinan alasan mereka adalah gara-gara masalah biaya. Momen inilah yang kemudian membawa dampak aku semakin dekat dengan keluarganya.

Setiap pagi, aku memeriksanya dan mengobrol dengan ke dua orang tuanya. Yang kita obrolkan mampu berbagai hal, dari menjadi situasi kedekatan Tanti dengan adiknya hingga keaktifannya di organisasi.

Tapi satu yang membawa dampak aku semakin menaruh hormat. Mereka selalu dengan sabar merawat buah hatinya yang berbaring lemas, tanpa jelas hingga berapa lama lagi mesti melakukannya.

Kalau itu, aku jelas bahwa kekuatan medis seorang dokter terbatas. Namun bukan berarti tidak tersedia yang mampu dikerjakan untuk meringankan beban pasien dan keluarganya.

Untuk itu, aku selalu meluangkan diri berkata dan menyebutkan situasi Tanti kepada ke dua orang tuanya. Apa yang aku lakukan sebetulnya untuk buat persiapan diri mereka atas situasi apa pun yang berlangsung terhadap anak kesayangannya.

Menerima kehilangan

Dua minggu lebih sudah kita lewati bersama, menciptakan jalinan yang unik pada aku dengan orang tua Tanti. Kami bagaikan satu tim yang bekerja sama untuk kesembuhan Tanti. Namun sayang, malamnya aku mendapat kabar bahwa Tanti mengalami kejang-kejang kembali.

Kali ini kejang yang dialaminya lebih parah. Sekujur tubuh Tanti bergetar tak terkontrol, matanya melotot ke atas. Sang ibu kemudian panik dan berurai air mata. Sesampainya di rumah sakit, aku memandang Tanti sudah tak sadarkan diri.

Tanti pun dinyatakan tutup usia. Sang ibu yang hampir tak dulu absen menemani pun mendekatinya sembari membisikkan sesuatu. Terlihat tenang, sedikit terisak ia menangisi kepergian si Anak Sulung.

Perlahan, aku dekati ibunda Tanti, dan menenangkannya, bahwa usaha maksimal sudah dilakukan, namun seluruh nya sudah digariskan oleh Yang Mahakuasa.

Bagaimanapun, dokter bukanlah Tuhan, sehingga tak mampu menanggung pasien yang dirawatnya terbebas dari maut, meski segala aku usaha sudah dikerahkan. Namun, aku percaya, dokter sudah harusnya mampu memberikan kenyamanan, baik terhadap terhadap pasien maupun keluarganya.

To cure sometimes, to relieve often, to comfort always. Sebuah pepatah medis yang selalu mengingatkan bahwa tugas utama seorang dokter adalah memberikan kenyamanan terhadap pasien dan keluarganya, kendati kemungkinan situasi medis pasien sudah tidak tertolong.

Berkomunikasi secara empati, dan berupaya dengan tulus adalah cara terbaik untuk menolong pasien. Bagi saya, Tanti adalah pasien yang aku anggap seperti keluarga, sekaligus guru terbaik dalam sistem pendidikan saya.

Berbekal kisah aku dan keluarga Tanti yang berjuang dengan melawan penyakit lupus, harapannya semoga para dokter di Indonesia mampu selalu menjadi “comforter”, yang memberikan kenyamanan untuk tiap-tiap pasien yang ditanganinya.

Obat penyakit lupus

Pengobatan penyakit lupus dibagi sesuai tingkat keparahannya. Obat penyakit lupus adalah nonsteroid anti-inflamasi (NSAID), kortikosteroid, antimalaria, dan imunosupresan.

Methotrexate (MTX). Methotrexate merupakan pilihan utama obat imunosupresan pada penyakit autoimun sekaligus obat pada pasien kemoterapi. Jenis obat imunosupresan lain yang sanggup diberikan adalah azathioprine, cyclophosphamide, dan mycophenolate. Pemberian obat MTX dimulai dari dosis rendah. Obat ini memiliki dampak samping berwujud gangguan pencernaan, nyeri ulu hati, dan gangguan enzim liver
Obat Nonsteroid Anti-inflamasi (NSAID). Obat NSAID seperti aspirin atau parasetamol sanggup digunakan sejalan dengan obat MTX untuk kurangi nyeri. Obat ini memiliki dampak samping pada pencernaan sehingga seseorang dengan riwayat maag atau nyeri ulu hati, dosis pertolongan obat ini perlu diperhatikan
Kortikosteroid. Obat kortikosteroid memuat hormon steroid sebagai anti-inflamasi untuk menghimpit pusat inflamasi dan imunitas. Contoh obat kortikosteroid yang digunakan pada penyakit lupus yakni predinisone dan metylprednisolone. Pemberian kortikosteroid jangka panjang sanggup mengakibatkan penumpukan cairan berlebih pada tubuh dan risiko hipertensi
Cyclosporin. Cyclosporin adalah obat yang banyak digunakan pada transplantasi organ. Untuk penyakit lupus, obat ini berfaedah sebagai imunosupresan untuk menurunkan kesibukan proses imun
Obat anti-malaria. Obat anti-malaria menjadi tidak benar satu obat utama pengobatan penyakit lupus gara-gara sanggup kurangi bercak butterfly rash dan kurangi kekambuhan. Contoh obat anti-malaria yang diberikan yakni hidroksiklorokuin dan klorokuin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *