Leukosit Adalah

leukosit adalah

leukosit adalah – sel lain yang terdapat dalam darah. Fungsi lazim sel darah putih ini ini terlalu berbeda bersama dengan SDM dan berperan dalam mempertahankan tubuh pada penyusupan benda asing yang tetap dipandang mempunyai bisa saja untuk mendatangkan bahaya bagi kelangsungan hidup individu.

Leukosit Adalah

Sel darah putih adalah sel lain yang terdapat dalam darah. Fungsi lazim sel darah putih ini ini terlalu berbeda bersama dengan SDM. Sel darah putih atau leukosit (Leukocyte) ini kebanyakan berperan dalam mempertahankan tubuh pada penyusupan benda asing yang tetap dipandang mempunyai bisa saja untuk mendatangkan bahaya bagi kelangsungan hidup individu. Meskipun demikian, seandainya diamati ulang kemahluk hidup yang lebih sederhana, leukosit ini hanya merupakan spesialisasi berasal dari kegunaan pertahanan tubuh, layaknya yang dijalankan oleh sel-sel pengembara (wanderring cells).leukosit adalah

Sel pengembara ini berguna mempunyai makanan berasal dari area penyerapan keseluruh tubuh, mempunyai bahan buangan dalam arah sebaliknya dan mempertahankan tubuh berasal dari benda dan sel asing. Leukosit ini merupakan sel darah yang mengutamakan diri, tercermin berasal dari asal usulnya, yang serupa bersama dengan SDM, yakni sel-sel “akar” (stem cells) yang tetap menerus membelah dalam sumsum tulang. Jumlah normal leukosit mempunyai rentangan yang lumayan luas, yakni antara 5.103-104/mL.leukosit adalah

Jumlah leukosit dalam darah tidaklah sebanyak SDM. Leukosit berada dalam kuantitas antara 0,1-0,2% berasal dari kuantitas SDM. Untuk menyatakan kenyataan tersebut, harus diingat bahwa tubuh memerlukan oksigen tiap saat dan dalam kuantitas yang besar. Untuk itu, dibutuhkan pembawa khusus, yang tidak lakukan kegunaan lain. Ini dipenuhi oleh SDM yang berada dalam kuantitas yang besar. Selain itu, untuk menjamin kegunaan tunggal ini, SDM merupakan sel yang sudah berdiferensiasi prima dan sekaligus merupaka sel akhir (end cells).

Sebaiknya, leukosit tidaklah dibutuhkan tiap saat diseluruh tubuh. Sel ini hanya dibutuhkan ditempat-tempat terjadinya konflik bersama dengan benda asing. Untuk menghadang benda atau sel asing disuatu area tertentu, leukosit mampu dikerahkan berasal dari area lain dalam aliran darah kesana. Apabila benda asing selanjutnya lumayan banyak atau penanganannya memerlukan suatu jangka saat tertentu, sebagian berasal dari leukosit mampu memperbanyak diri bersama dengan mitosis diluar jaringan sumsum tulang. Leukosit yang serupa ini bukanlah sel akhir. Jelaslah, mengapa leukosit dibuat dalam perbandingan yang jauh lebih kecil berasal dari pada SDM, walau keduanya mengekspresikan 2 kegunaan yang berbeda berasal dari sel pengembara pada makhluk metazoa yang lebih simpel (Mohamad Sadikin, 2001).leukosit adalah

Sel darah putih merupakan komponen selular perlu dalam darah yang berperan dalam proses kekebalan. Dikenal adanya 3 jenis sel darah putih, yakni limfosit (baik B maupun T), granulosit (neutrofil, eosinofil dan basofil) dan monosit. Ketiganya berasal berasal dari dua garis keturunan asal sel stem hematopoietic multipoten yang sama, limfosit berasal berasal dari garis keturunan progenitor limfoid, tetapi granulositdan monosit berasal berasal dari garis keturunan progenitor myeloid. Limfosit B berguna menghasilkan antibodi, tetapi limfosit T berperan utama dalam bermacam mekanisme imun selular layaknya membunuh sel-sel yang terinfeksi virus atau sel-sel kanker. Dalam sel darah tepi, kuantitas sel darah putih relatif paling sedikit dibandingkan bersama dengan dua sel darah lainnya bersama dengan masa hidup sepanjang 13-20 hari.

Pada orang dsewasa normal, kuantitas keseluruhan sel darah putih adalah kira-kira 4.500-10.000 per mcl bersama dengan presentasi limfosit 25-35%, granulosit neutrophil (segmen) 50-70%, basophil 0,4-1%, eosinophil 1-3% dan monosit 4-6%. Pada kondisi khusus gara-gara problem kebugaran kuantitas leukosit mampu mengkat disebut leukositosis dan sebaliknya mampu alami penurunan disebut leucopenia.leukosit adalah

Sebagaimana halnya bersama dengan sel darah merah, pada membran sel darah putih termasuk terdapat antigen-antigen. Selain antigen proses golongan darah, pada sel darah putih dikenal adanya antigen leukosit yang menyerupai antigen kompleks histokompatibilitas utama (Major Histocompatibility Complex, MHC) pada tikus. Sistem antigen leukosit yang lantas dikenal sebagai antigen manusia (Human Leukocyte Antigen, HLA) ini terbukti kelak terlalu kompleks dan dikatakan sebagai proses polimorfisma genetik paling rumit pada manusia  (Abdul Salam, 2012)

Bentuk dan pembawaan berasal dari sel darah putih (leukosit) berbeda bersama dengan eritrosit. Bentuknya bening, tidak berwarna, lebih besar berasal dari eritrosit, mampu berubah dan bergerak bersama dengan perantara kaki palsu (pseudopodia), mempunyai bermacam macam inti sel, banyaknya antara 6000-9000/mm3. Fungsi utama sel darah putih adalah sebagai pertahanan tubuh bersama dengan cara menghancurkan patogen (kuman, virus, dan toksin). Sebagai pertahanan tubuh dikerahkan ketempat-tempat infeksi bersama dengan kuantitas berlipat ganda.

Leukosit mampu bergerak berasal dari pembuluh darah menuju jaringan, saluran limfe dan ulang ulang kedalam aliran darah. Leukosit bersama dengan proses magrofag jaringan atau sel retikuloendotel berasal dari hepar, limpa, sumsum tulang, alveoli paru, mikroglia otak dan kelenjar getah bening lakukan fagositosis pada kuman dan virus yang masuk. Setelah dalam sel kuman/virus dicerna dan dihancurkan oleh enzim pencernaan sel (Syaifuddin, 2006).leukosit adalah

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sistem Peredaran Darah – Pengertian, Terbuka, Tertutup, Kecil, Besar, Fungsi

Jenis Sel Darah Putih (Leukosit)

Leukosit bukanlah sel yang semacam saja. Sel darah putih ini pada awalnya dibedakan berdasarkan uraian mikroskopis masing-masing. Ada 5 macam leukosit, yang menurut bentuk inti masing-masing terbagi jadi 2 kelompok utama.

Kedua macam bentuk inti selanjutnya ialah bentuk yang pecah-pecah atau bersegmen dan bentuk bulat. Bentuk yang bermacam macam ini mobilisasi kegunaan yang berbeda-beda pula, yang semuanya terjalin bersama dengan kegunaan pertahanan. Selain itu, tiap jenis leukosit ini dalam kondisi sehat ternyata berada dalam kuantitas yang berbeda-beda pula. Perubahan presentase masing-masing leukosit mampu menunjukkan, apakah radang yang dialami selanjutnya nisbi baru berjalan ataukah sudah lama. Bahkan perubahan pola distribusi leukosit kebanyakan mampu diperiksa secara simpel bersama dengan mengfungsikan mikroskop sinar biasa. Setetes darah yang kebanyakan diambil bersama dengan menusuk jari manis bersama dengan suatu penunjuk yang steril dan kering. Dari tetesan darah tersebut, segera dibuatkan hapusan darah, yang sesudah kering segera diwarnai bersama dengan pewarna MGG. Leukosit sejumlah 100 dihitung dalam lapang pandang berbeda. Tiap kali menghitung, leukosit selanjutnya segera dikelompokkan ke dalam salah satu berasal dari jenis-jenis leukosit yang lazim ditemukan dalam darah.

Perhitungan presentase jenis-jenis leukosit ini dinamai hitung jenis (differential count atau diff. count), suatu pemeriksaan yang terlalu perlu untuk mengetahui, apakah radang yang dialami nisbi baru berjalan ataukah sudah agak lama.

Leukosit bersama dengan inti terpecah (sel PMN) atau granulosit

Sel-sel bersama dengan inti terpecah-pecah atau bersegmen disebut sebagai leukosit PMN. Karena sel-sel ini termasuk mempunyai butir-butir halus dalam sitoplasma, maka leukosit jenis ini dinamai sebagai granulosit. Sel-sel ini bukanlah sekelompok sel yang homogen. Granulosit ini tetap mampu dipilah-pilah ulang dalam 3 kelompok, berdasarkan warna sitoplasma masing-masing sesudah diwarnai bersama dengan pewarna MGG, yakni netral, kemerahan dan kebiruan.

Leukosit PMN atau granulosit yang netral pada pewarnaan MGG, dalam arti kata sesuai dalam nuansa kemerahan dan kebiruan, termasuk disebut termasuk sebagai leukosit netrofil. Inilah leuokosit yang terbanyak satu diantara ketiga jenis granulosit tersebut, lebih-lebih leukosit netrofil ini adalah leukosit yang terbanyak dalam darah. Sel-sel leukosit netrofilini dalam darah berada dalam konsentrasi 2. 103 sampai 7. 103 / mL. Ini berarti lebih kurang separuh atau lebih berasal dari leukosit darah ternyata adalah sel-sel netrofil. Waktu paruh berasal dari leukosit netrofil ini dalam darah ialah 6 jam, tetapi dalam jaringan 1 sampai 2 hari. Dengan demikianlah leukosit netrofil ini termasuk sel yang cepat mengalami pergantian, layaknya termasuk sel-sel epitel usus. Bandingkan, seandainya bersama dengan umur SDM dalam darah, yakni 120 hari atau 4 bulan.

Dalam kondisi sehat, hanya sedikit sekali sel-sel neutrofil ini ditemukan dalam jaringan. Hanya seandainya berjalan penyusupan benda atau sel asing kedalam jaringan maka sel-sel netrofil berada dalam kuantitas besar ditempat konflik tersebut. Sifat lain yang mampu diambil kesimpulan ialah bahwa sel-sel leukosit netrofil mempunyai kebolehan untuk menyelinap satu diantara sela-sela yang terlalu sempit dan ketat berasal dari sel-sel endotel yang melapisi permukaan dalam pembuluh darah. Kedua kebolehan ini dimungkinkan oleh pembawaan leukosit netrofil yang mampu bergerak sendiri (bukan dihanyutkan demikianlah saja secara pasif oleh aliran darah) secara amubiod (seperti gerak amuba).

Leukosit netrofil mempunyai kebolehan untuk lakukan gerak fagositosis, yakni menelan dan memakan benda atau sel asing, bersama dengan cara menjulurkan sitoplasmanya yang mampu lakukan gerak amuboid, mengelilingi benda asing tersebut. Selanjutnya kedua ujung jaluran sitoplasma bertaut dan benda asing pun terkurungdalam suatu ruang dalam sel netrofil. area baru yang memuat benda asing tersebut, disebut fagosom, melebur bersama dengan suatu strukturpenghancur yang bernama yang benama lisosom dalam sel netrofil. Lisosom ini punya kandungan bermacam enzim yang menghancurkan bermacam macam senyawa kimia. Dengan cara demikianlah benda asing dihancurkan. Karena itu, dapatlah dipahami bahwa kegunaan leukosit netrofil ini terlalu pentingdalam masa-masa awal berasal dari suatu proses radang.leukosit adalah

Gangguan apa pun pada leukosit netrofil, baik yang bersifat bawaan atau genetik maupun gara-gara efek lingkungan akan sebabkan individu yang terkait terlalu gampang mengalami infeksi. Defisiensi enzim-enzim leukosit tertentu, baik yang terdapat dalam lisosom maupun yang diluarnya, yang berperan sdalam penghancuran benda asing, sebabkan individu selanjutnya jadi terlalu gampang mengalami infeksi piogenik (infeksi yang disertai bersama dengan pembentukan nanah, layaknya bisul).

Desinfeksi enzim, layaknya diketahui, merupakan kelainan bawaan yang berakar pada gen. Pemberian obat-obatan yang mepunyai efek samping kurangi mengolah leukosit, akan sebabkan orang selanjutnya akan terlalu gampang mengalami radang tenggorokan dan infeksi kuman yang lain. Obat-obatan yang mempunyai akibat samping layaknya ini antara lain ialah obat khusus penhilang rasa nyeri (analgetika),  obat-obatan golongan kortikosteroid serta obat-obat penghambat mitosis yang digunakan untuk membuat sembuh kanker.

Laukosit PMN atau granulosit yang bernuansa  kemerahan pada pewarnaan MGG dinamai sebagai sel leukosit eosinofil. Sel ini, walau granulosit kedua terbanyak sesudah leukosit netrofil, konsentrasinya dalam darah jauh lebih rendah. Hanya saja 3 sampai 5% berasal dari seluruh leukosit beredar yang bersifat leukosit eosinofil, atau kira-kira 150 sampai 500 sel/mL darah. Tampaknya, sel ini lebih banyak berada dijaringan berasal dari pada dalam darah. Agaknya, keberadaannya dalam darah adalah dalam rangka rangka perjalanannya untuk menuju bermacam jaringan, terutama dipermukaan epitel. Ditempat ia menetap ini, eosinofil mempunyai umur yang lebih panjang berasal dari pada sel-sel leukosit netrofil, atau kira-kira 150 sampai 500 sel/mL darah. Tampaknya, sel ini lebih banyak berada dijaringan berasal dari pada dalam darah. Agaknya, keberadaannya dalam darah adalah dalam rangka perjalanannya untuk menuju bermacam jaringan, terutama dipermukaan epitel.leukosit adalah

Ditempat ia menetap ini, eosinofil mampu berdiam sepanjang sebagian minggu. Dengan demikian, sel eosinofil mempunyai umur yang lebih panjang daripadasel-sel leukosit netrofil. Nuansa kemerahan berasal dari sel ini disebabkan adanya senyawa- senyawa khusus dalam sitoplasma, terutama di dalam granula. Senyawa ini terutama adalah protein kation (bersifat basa) yang mempunyai afinitas untuk berikatan bersama dengan zat warna golongan anilin asam, layaknya eosin, yang terdapat dalam pewarna MGG.

Sel-sel eosinofil ini termasuk mempunyai kebolehan bermigrasi, layaknya yang terbukti bersama dengan lebih banyaknya sel ini dijaringan berasal dari pada dalam darah. Leukosit eosinofil ini termasuk mampu lakukan fagositosis. Berbeda bersama dengan sel-sel netrofil, sel eosinofil mampu membunuh parasit , termasuk parasit besar layaknya cacing. Parasit selanjutnya dibunuh oleh sel-sel eosinofil bersama dengan cara mengeluarkan isikan granula yang kaya akan protein basa atau protein kation tadi, sesudah lebih dulu leukosit eusinofil selanjutnya menempel ke sel-sel permukaan tubuh cacing tidak berada dalam darah, namun terutama diepitel jaringan, mampu dipahami mengapa sel-sel eosinofil ini lebih banyak berada dalam jaringan, terutama epitel. Dapat dikatakan bahwa sel-sel eosinofil ini merupakan alat pertahanan pada infestasi cacing. Karena itu, meningkatkan konsentrasi sel-sel leukosit eosinofil dalam darah merupakan anjuran yang mengarah kepada bisa saja adanya parasit dalam tubuh.

Keadaan lain yang termasuk ditandai bersama dengan hipereosinofilia ini ialah kondisi alergi. Keterangannya belum jelas, bisa saja terjalin bersama dengan meningkatkan konsetrasi antibiotik kelas IgE dalam dara, baik pada alergi maupun pada infestasi cacing. Sel leukosit PMN jenis ketiga ialah pemulasan MGG kelihatan warna biru. Oleh gara-gara itu, granulosit jenis ketiga ini dinamai termasuk sebagai leukosit basofil. Warna kebiruan ini disebabkan oleh banyaknya granula yang memuat histamin, suatu senyawa amina biogenik yang merupakan metabolit berasal dari asam amino histidin. Sebagaimana senyawa amina lainnya, histamin termasuk bersifat basa, yang sebabkan warna biru pada pewaranaan MGG dan jadi asal usul nama basofil tersebut.

Ciri lain berasal dari sel leukosit basofil ialah adanya kebolehan yang terlalu kuat untuk mengikat IgE, berkat adanya molekul protein reseptor (pengikat) IgE di permukaan membran. Afinitas reseptor pada IgE. Konsentarsi sel leukosit basofil dalam darah terlalu rendah, lebih-lebih kerap kali sulit dihitung bersama dengan cara pemeriksaan mikroskopis biasa. Sel-sel basofil ini terlalu berperan dalam kondisi alergi.

Pada seseorang yang menderita alergi seandainya berjalan konflik antara alergen (antigen pencetus alergi) bersama dengan antibodi yang cocok bersama dengan bersama dengan kelas IgE yang kebanyakan terikat bersama dengan reseptor khusus di membran sel basofil, maka terjadilah degranulasi (penglepasan isikan granula) agar histamin pun nampak berasal dari sel dan masuk kedalam aliran darah. Histamin yang bebas selanjutnya akan sebabkan terjadinya gejala-gejala alergi (antara lain gatal, kulit dan mukosa membengkak akibat meningkatkan permeabilitas pembuluh darah, termasuk mukosa hidung agar jalur nafas bawah layaknya bronkus kecil yang disertai konstriksi atau penyempitan rongga bronkus kecil gara-gara kelarutan otot polos agar berjalan asma, kerutan otot polos usus agar cairan saluran cerna makin tambah dan disertai rasa mulas.

Gejala-gejala ini mampu berjalan setampat saja, mampu pula berjalan diseluruh tubuh. Bila yang paling akhir ini berjalan dalam saat singkat (beberapa detik atau menit sesudah konflik antigen-antibodi), kondisi ini disebut renjatan anafilaktik (anaphylactic shock), kondisi yang terlalu beresiko gara-gara turunnya kuantitas cairan dalam pembuluh darah aliran darah ke bermacam organ penting, termasuk otak, jadi terlalu berkurang. Keadaan ini terlalu tahu terlalu memerlukan bantuan segera. Perlu pula diketahui, bahwa dalam jaringan terdapat sel lain yang dulu dinamai sebagai sel basofil jaringan dan kini lebih dikenal sebagai mastosit (mastocyte) atau sel mast (mast cells), yang mempunyai ukuran dan pembawaan yang serupa bersama dengan sel-sel basofil darah, namun asal usulnya berlainan.

Leukosit bersama dengan inti bulat (leukosit mononukleus)

Leukosit jenis ini mempuyai inti yang utuh, tidak terpecah-pecah jadi sebagian segmen. Sebenarnya inti sel leukosit ini tidaklah tetap bulat sempurna, yang pasti ialah tetap utuh dan tidak terbagi-bagi. Selain itu, sitoplasma sel leukosit mononukleus ini tidak mempunyai butiran-butiran kecil atau granula. Leukosit mononukleus ini tidak mempunyai butiran-nutiran kecil atau granula. Leukosit mononukleus inipun bukan sel-sel yang homogen. Sel-sel leukosit mononukleus ini, berdasarkan perbandingan sitoplasma bersama dengan inti, mampu dibagi jadi 2 kelompok. Kelompok pertama ialah leukosit mononukleus yang perbandingan sitoplasma bersama dengan intinya kecil, tetapi kelompok kedua ialah sel-sel bersama dengan perbandingan sitoplasma bersama dengan inti besar.

Leukosit mononukleus bersama dengan sitoplasma: inti kecil dinamakan sebagai limfosit. Bila diamati bersama dengan mikroskop, kelihatan inti sel yang isikan sebagian besar berasal dari sel. Sitoplasma limfosit bernuansa biru dan jumlahnya sedikit, mengelilingi inti saja. Sel limfosit mempunyai ukuran yang kecil, kira-kira hampir serupa bersama dengan SDM.

Limfosit adalah leukosit kedua terbanyak dalam darah sesudah leukosit netrofil. Antara 25% dan 35% berasal dari kuantitas seluruh leukosit darah adalah limfosit. Jumlah ini akan makin tambah pada bagian gawat berasal dari suatu peradangan gara-gara infeksi. Berbeda bersama dengan sel-sel granulosit, limfosit tidak mampu lakukan fagositosis. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa limfosit ini kurang perlu atau tidak mempunyai kegunaan yang tahu dalam pertahanan tubuh. Bahkan sebaliknya, sel-sel limfosit ini mempunyai kegunaan yang terlalu perlu dalam mekanisme pertahanan atau imunitas khusus pada benda asing.

Limfosit adalah sel yang menghasilkan antibodi pada bermacam benda atau senyawa asing. Senyawa ini terlalu perlu untuk menghancurkan dan menghalau benda asing berasal dari dalam tubuh. Sel limfosit ini berada saat dalam darah dan akan bermigrasi keberbagai kelenjar getah bening atau kelenjar limfe dan berdiam disana. Bila limfosit bertemu bersama dengan benda asing, ia akan berkembang adan mitosis jadi sel plasma (plasmosit) yang berguna sebagai sel penghasil antibodi. Limfosit sendiri termasuk tetap berpilah-pilah ulang jadi 2 atau 3 jenis, yakni limfosit B, limfosit T dan sel-sel pembuluh alamiah (Natural Killer=NK).

Perbedaan antara limfosit B bersama dengan T ini disebabkan oleh berbedanya area sel-sel ini dimatangkan sesudah lewat bagian perkembangan khusus disumsum tulang.  Sel limfosit B mengalami pematangan lebih lanjut tanpa meninggalkan sumsum tulang, baru kemuadian dimasukkan kedarah. (B adalah singkatan berasal dari Bone Marrow atau sumsum tulang, area ia dimatangkan sebelum masuk kedarah).

Sel limfosit T mengalami pematangan lebih lanjut dikelenjar timus sebelum masuk kepembuluh darah. (T adalah singkatan untuk kelenjar timus). Ketiga jenis linfosit ini praktis tidak mampu dibedakan bersama dengan pewarnaan MGG saja(walaupun bisa saja sel-sel NK tetap mampu dikenali). Untuk membedakannya dibutuhkan cara-cara khusus dan tehnik pewarnaan khusus (pewarnaan imunokimia). Bahkan, sel-sel limfosit T nasih mampu dipilah-pilah ulang bersama dengan tehnik imunokimia ini, jadi sel limfosit T penolong limfosit T supresor dan limfosit T pembunuh (berbeda bersama dengan sel NK). Sel-sel mononukleus  yang mempunyai sitoplasma: inti besar, atau bersama dengan perkataan lain mempunyai sitoplasma yang banyak dinamai sebagai sel-sel monosit. Inti sel monosit kebanyakan kelihatan layaknya kacang merah atau ginjal, gara-gara mempunyai anggota yang melekuk.

Konsentrasi sel monosit ini dalam darah antara 5% sampai 10%. Selmonosit ini berada dalam darah hanyaa sepanjang 24 menit saja, untuk sesudah itu bermigrasi keberbagai jaringan, menetap disana dan berubah jadi sel bersama dengan sitoplasma yang lebih besar berasal dari padaa monosit dan kerap kali berlekuk-lekuk. Monosit yang sudah berdiam diri di jaringan ini disebut makrofag jaringan (tissue macrophages) atau makrofag penghuni (resident macrophages). Bentuk dan nama-nama makrofag ini bermacam-macam.

Didalam dalam jaringan hati, makrofag ini dinamakan sebagai sel kupffer, dijaringan susunan saraf pusat dinamakan sel mikroglia, dilimbah dan kelenjar getah bening dinamakan sebagai sel dendritik (karena sitoplasama sel ini punya tonjolan yang terlalu banyak sekali agar kelihatan berlekuk-lekuk. Diparu, makrofag dikenal sebagai sel makrofag alveolus, di ginjal makrofak dijumpai sebagai sel mesangium dan dalam tulang makrofag dinamakan sebagai sel oeteoklas. Makrofag termasuk ditemukan sebagai sel-sel dendritik dikulit dan dinamai sebagai sel langerhans. Selain mampu lakukan gerak amuboid, makrofag termasuk mempunyai kebolehan fagositosis dan menghancurkan benda asing yang terlalu kuat . melebii kebolehan sel-sel leukosit netrofil, sitoplasma makrofag termasuk kaya akan lisosom yang punya kandungan bermacam enzim penghidrolisis.

Selain itu layaknya termasuk leukosit netrofil, sel ini mapu meningkatkan metabolisme aerobnya seandainya tengah membunuh sel asing. Hasil metabolisme aerobik selanjutnya bersifat H2O2 dan turunannya.seperti hipoklorit (CIO–) dan radikal hidroksil (OH–) digunakan untuk pengoksidasi atau merusak benda atau sel asing yang sudah ditelan oleh makrofag tersebut. Dengan demikian, makrofag mempunyai guna dalam mempertahankan tubuh pada benda asing, terutama pada bagian yang agak lanjut, seandainya sel-sel leukosit netfil terasa memerlukan bantuan.

Pada bagian yang lanjut, tugas ini dijalankan oleh makrofag dan sel ini bekerja secara khas bersama dengan bantuan anti bodi menghancurkan benda asing. Lebih perlu lagi, makrofak ternyata mempunyai peran pusat dalam tanggapan imusn spesifik. Karena sel inilah yang mengelolah dan menyajikan benda asing sebagai antigen ke sel-sel yang sebabkan antibodi, yakni limfosit B yang bekerja atas bantuan limfosit T.

Oleh gara-gara itu, makrofag, terutama dalam bentuk sel-sel dendritik di kelenjar getah bening, limfa dan kulit, dinamai termasuk sebagai sel penyaji antigen. Selain itu, makrofag termasuk sebabkan dan mengeluarkan senyawa yang mampu sebabkan dan mengaktifkan sel-sel limfosit didekatnya, agar sel limfosit selanjutnya siap untuk mengolah antigen dan menghasilkan anti bodi. Senyawa tersebut, sutu protein, dalam tulang, sebagai osteoklas sel-sel makrofag memfagositosis matriks tulang yang sesudah itu dibentuk laggi oleh sel lain yang bernama selosteoblas. Ini berarti, sel-sel makrofag tulang (osteoklas) mempunyai peran pentng dalam memberi bentuk (remodelling) pada tulang (Mohamad Sadikin, 2001).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *