Naskah Drama

naskah drama

naskah drama – Jika Anda sadar dunia sastra, tentu Anda udah mengenal bersama dengan baik apa itu drama. Drama pada dasarnya merupakan lakon yang diperankan oleh aktor. Jika dirunut sejarahnya, drama sebagai keliru satu kerja seni ini berasal dari Yunani Kuno.

Kata drama sendiri terhitung diambil dari bhs Yunani. Drama berasal dari dua kata (Yunani) yang kalau dipadankan didalam Bahasa Indonesia, serupa bersama dengan “aksi” dan “perbuatan”. Sebagai keliru satu karya seni, drama terbilang kompleks sebab melibatkan banyak unsur. Salah satu yang paling perlu adalah naskah drama.

Mereka yang bergeliat didalam dunia drama tentu sadar bagaimana pentingnya naskah drama itu. Naskah ini mencakup cerita dan narasi dialog para pemain untuk membangkitkan cerita yang diusung. Keberhasilan drama di awali dari penguasaan para aktor pada naskah drama itu sendiri.

Jadi, perlu diperlukan adanya naskah drama yang baik sehingga mudah dipahami mereka yang mendalaminya. Berikut kita sajikan beberapa umpama naskah drama yang mampu Anda cermati sehingga pemahaman tentang naskah drama jauhl lebih komprehensif.

Contoh Teks Naskah Drama

 

Berikut ini terdapat beberapa umpama naskah drama, terdiri atas:

1. Contoh Naskah Drama Pendek 5 Orang

Persahabatan

Ibandi: “Din, Aku minta jawaban soal nomer  5 dan 6!”

Andine: “A dan C”

Yensieta: “kalau soal nomer 10,11 dan 15 jawabannya apa Ban?

Ibandi: “10 A, 11 D, nomer 15 Aku belum”

Aldiansyah: “Wheeii, jangan kencang-kencang nanti gurunya dengar”

Yensieta: “Soalnya sukar sekali, tetap banyak yang belum Aku kerjakan”

Mereka berempat saling contoh-menyontoh layaknya siswa lainnya. Tapi tidak bersama dengan Budiman, ia terlihat rileks dan mengerjakan soal ujian sendiri tanpa Nyontek.

Ibandi: “Bud,kamu udah selesai?”

Budiman: “Belum, tinggal 3 soal lagi”

Ibandi: “Aku minta jawaban nomer 15 sampai 20 Bud!”

Budiman: “Tidak Bisa Ban,”

 

Ibandi: “Kenapa? Kita kawan dekat bud, kita harus kerjasama”

Andine: “Iya Bud, kita harus kerja sama”

Aldiansyah: “Iya, anda kan yang paling pintar disini bud”

Budiman: “tapi bukan kerjasama layaknya ini teman-teman”

Yensieta: “Kenapa sesungguhnya Bud? Hanya 5 soal saja!”

Budiman: “Nyontek atau pun memberi contek adalah perihal buruk, yang dosa nya sama. Aku tidak rela mencotek sebab dosa, begitu pula member contek ke kalian. Maafin saya ya..”

Yensieta: “Tapi selagi ini, sangat mendesak Bud”

Andine: “Iya Bud, bantu kami”

Budiman: “tetap tidak bisa”

Aldiansyah: “Ya sudahlah, biarkan. Urus saja dirimu sendiri Bud, dan kita urus diri kita sendiri.” (marah dan kesal)

 

Ibandi: “biarkan, kita lihat di buku saja”

Ibandi lalu mengeluarkan buku dari kolong bangkunya secara diam-diam, sesudah itu lihat rumus dan jawaban di dalamnya. Lalu Yensieta bertanya hasilnya.

Yensieta: “Bagaimana Ban? Ada tidak?

Ibandi: “ada, kalian dengar ya. 15 A, 16 D, 17 D, 18 B, 19 A, 20 C”

Kareana suara Ibandi yang agak terdengar keras, Guru pun mendengarnya dan menghampiri mereka berempat.

 

Pengajar: “Kalian ini, Nyontek terus. Keluar kalian”

Mereka berempat di hukum di lapangan untuk menjunjung tiang bendera.

Ibandi: “Aku tidak menyangka akan layaknya ini”

Andine: “Aku terhitung tidak menyangka, akan dihukum”

Yensieta: “Seharusnya kita belajar ya”

Aldiansyah: “Iya, Budiman benar”

Ibandi: “Disaat layaknya ini, baru kita menyadarinya yah!”

Yensieta: “Aku menyesal!”

Aldiansyah, Andine & Ibandi: “Aku juga” bersama

Setelah itu Budiman terlihat dari kelas dan menghampiri mereka. Kemudian Budiman ikut berdiri hormat layaknya yang lain.

Andine: “kenapa bud? Kamu di hukum juga?”

Budiman: “Tidak, Aku menginginkan menjalani hukuman kalian juga. Kita kawan dekat kan? Aku menginginkan kita bersama”

Yensieta: “Aku berharap ini jadi siswaan kita semua”

Andine: “dan tidak kita mengulang lagi”

Aldiansyah: “Kita kawan dekat sejati”

Lantas mereka semua menjalani hukuman bersama dengan penuh canda dan tawa. Ternayata persahabatan mampu menjadikan seluruhnya lebih baik.

2. Contoh Naskah Drama 5 Orang

Ini adalah pagi yang cerah. Mita dan Doni, dua orang siswa kelas VII sedang asyik membaca-baca buku Biologi di koridor sekolah. Pasalnya nanti siang akan tersedia ulangan harian mata pelajaran tersebut. Kemudian datang Anggi, kawan dekat mereka.

Anggi: “Mit, Don, rajin sekali kalian berdua!”

Mita: “Iya dong, tugas kita sebagai pelajar kan sesungguhnya harus belajar. Hehehe…”

Anggi: “Iya terhitung sih. Eh ngomong-ngomong kalian sadar tidak, tersedia murid baru yang akan masuk ke kelas kita hari ini.”

Doni: “Oh ya, siapa namanya? Lelaki atau perempuan?”

Anggi: “Lelaki, tetapi saya terhitung belum sadar siapa namanya dan layaknya apa rupanya.”

[Bel sekolah berbunyi]

Mita: “Eh ayo masuk kelas!”

[Ketiganya memasuki ruang kelas. Ibu guru masuk bersama dengan seorang murid baru.]

Ibu Guru: “Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kita kehadiran kawan baru dari Aceh, ia akan jadi kawan sekelas kalian. Silakan perkenalkan dirimu, nak!”

Ridwan

Ridwan: “Selamat pagi, teman-teman. Nama saya Muhammad Ridwan. Saya berasal dari Aceh.”

Mita [berbisik pada Anggi]: “Jauh sekali ya, dari Aceh rubah ke Bandung!”

[Anggi cuma mengangguk isyarat setuju]

Ibu Guru: “Ridwan, anda duduk di belakang Doni ya [menunjuk sebuah meja kosong]. Untuk selagi anda duduk sendiri dahulu sebab jumlah siswa di kelas ini ganjil.”

[Ridwan langsung duduk di kursi yang disediakan]

Ibu Guru: “Ya baiklah, saat ini kita menjadi pelajaran hari ini. Buka buku kalian di halaman 48….”

[Pelajaran pun dimulai]

Tiba saatnya jam istirahat. Ridwan, yang belum mempunyai teman, diam saja duduk di kursinya sambil menunduk. Rupanya belum tersedia yang rela mendekati Ridwan. Semua siswa di kelas itu tetap sungkan dan cuma rela tersenyum saja padanya tanpa berani mengajak ngobrol lebih lanjut.

Doni: “Psst, Mit, Nggi, coba lihat anak baru itu, sendirian saja ya!” [berbisik pada Mita dan Anggi selagi mereka baru kembali dari kantin]

Mita: “Ayo kita dekati saja.” [Ketiganya menghampiri Ridwan]

Anggi: “Hei, Ridwan. Kenalkan, saya Anggi, ini Ridwan dan Mita [menunjuk ke-2 temannya].”

[Ketiganya duduk di sekeliling Ridwan]

Ridwan: “Hai, salam kenal.”

Doni: “Kamu kok tidak jajan ke kantin?”

Ridwan: “Aku… Aku bawa bekal makanan [pelan sekali, sambil tertunduk].”

Mita: “Oh begitu, rajin sekali kamu, Wan!

[Keempat siswa ini menjadi terlibat obrolan mudah sehingga Ridwan menjadi ditemani]

Saat jam pulang sekolah, Ibu Guru memanggil Anggi dan Doni yang hendak pulang ke rumah.

Ibu Guru: “Anggi, Doni! Ke sini sebentar. Ibu rela bertanya sesuatu.”

[Anggi dan Doni menghampiri Ibu Guru]

Doni: “Ada apa, Bu?”

Ibu Guru: “Itu, bagaimana tingkah laku Ridwan di kelas? Apakah ia mampu membaur?”

Doni: “Dia agak pendiam, Bu. Dan puas menunduk selagi berbicara.”

Anggi: “Tadi di jam istirahat, kita berdua dan Mita berupaya mendekatinya. Kami mengobrol lumayan lama, ia anak yang baik kok, cuma saja ia layaknya agak tidak cukup yakin diri dan muram.”

Ibu Guru: “Hmm… begitu ya. Anak-anak, Ridwan adalah keliru satu korban selamat tragedi tsunami Aceh beberapa bulan yang lalu. Kedua orang tuanya tewas terhempas ombak. Kini cuma tinggal ia dan adik perempuannya, Annisa. Annisa tetap duduk di kelas 4 SD, di SD V kota kita ini.”

Anggi: “Ya Tuhan, sungguh berat cobaan yang menimpanya…”

Ibu Guru: “Iya. Untungnya, seorang pamannya tinggal di Bandung sehingga ia dan adiknya tinggal di sini. Mereka tergolong penduduk prasejahtera, sehingga Ridwan sangat harus berhemat. Pamannya bicara pada Ibu tadi pagi, ia tak mampu memberi duwit jajan yang lumayan untuk Ridwan sehingga Ridwan harus bekal nasi tiap-tiap hari sehingga tidak lapar di sekolah.”

Doni: “Oh pantas saja tadi jam istirahat ia tidak ke kantin.”

Ibu Guru: “Ya sudah, Ibu cuma rela bilang begitu. Kalian berbaik-baiklah dengannya. Temani dia sehingga tak menjadi kesepian dan konsisten berduka.”

[Anggi dan Doni pamit sesudah itu pulang]

Di rumahnya, Doni konsisten menerus memikirkan kawan barunya, Ridwan. Akhirnya ia memperoleh suatu ide. Dikabarkannya Anggi dan Mita lewat SMS. Keesokan harinya di jam istirahat….

Doni: “Eh, kalian mempunyai apa yang saya bilang kemarin, kan?”

Mita: “Bawa dong. Ayo kita dekati Ridwan.”

Anggi: “Ridwan, bolehkah kita bertiga makan bersamamu?”

Ridwan: [kikuk dan kebingungan] “Eh, um.. boleh saja..”

Doni, Anggi, dan Mita mengeluarkan bekal makanan mereka. Ketiganya terhitung mempunyai makanan camilan untuk dimakan bersama-sama, tentu saja Ridwan terhitung kebagian. Dengan makan bersama dengan tiap-tiap hari, mereka berharap mampu membuat Ridwan lebih ceria. Setelah makan…

Ridwan: “Terima kasih, teman-teman. Kalian sangat baik kepadaku.”

Mita: “Kamu ini bicara apa, sih? Kita kan teman, lumrah saja kalau kita saling bersikap baik.”

Semenjak itu Ridwan jadi makin lama kuat sebab bantuan teman-teman barunya. Siswa-siswa lain di kelas itu pun banyak yang bergabung mempunyai bekal untuk dimakan bersama-sama pada jam istirahat. Suasana jadi makin lama menyenangkan.

3. Contoh Naskah Drama Lucu 5 Orang

Tokoh:

Rio : Cerdik, pintar mengeles, & pembohong level akut.
Asep : Sangar, tegas, & emosional
Renata : Kepo, komentator, cerewet, & puitis yang dipaksakan.
Renal : Semuanya di bawah standar
Ririn : Pintar, disiplin, rajin, & baik hati

DIALOG

Di sebuah meja yang berada di sebuah kelas. Di sebuah kelas yang berada di sekolah.Di suatu sekolah yang entah tersedia ataupun tidaknya. Hiduplah 4 orang murid yang sedang bahagia-bahagianya, tetapi semua tersebut berubah selagi ulangan akan datang.
Renata : “ Eh. Kalian udah ngapalin buat ulangan besok?“ (Datang )
Rio : “ Belum “
Renal : “ Innalillahi “
Renata : “ What the hell, Oh my God. Kalau mutu ulangannya jelek, kelak dihukum “
Renal   : “ Paling hukumannya lari di lapangan “
Renata : “ Bukan. Hukumannya pelajara ntambahan tiap-tiap pulang sekolah “
Renal   : “ Innalillahi “
Rio : “ Aku cek dulu, barang kali guru “ ( Berangkat )
Renal : “ Ngapalin bab yang mana a- “
Rio : “ Ada guru “ ( Dateng ) ( Semua lihat kepintu )
Ririn : “ Loh. Kok sepi?“ (Datang )
Renal : “ Huuu. Katanya tersedia guru “ (Nepuk bahu Rio )
Rio : “ Iya ini guru. Guru era depan “
Ririn : “ Kamu mampu aja “
Renata : “ Kamu udah ngapalin Rin? “
Ririn : “ Udah dong. Ririn “
Rio : “ Ellleh. Aroganamet “
Ririn : “ Biarin “
Renata : “ Udah-udah jangan berantem “
Renal   : “ Iya, dari pada berantem mendingang ini, siapa yang kualitasnya paling gede, Dirinya yang menang, & yang menang mampu nyuruh 1 kali pada yang kalah “
Ririn + Rio : “ Setuju! “
( Asep datang dari belakang )

Asep : “ Bapa terhitung setuju! “
Ririn & Rio konsisten menyiapkan ulangannya matang-matang. Ririn lakukan gerakan 3B yakni Belajar, Ber’doa,  & Berusaha yang udah biasa dilakukan. Sedangkan Rio merangkum semua bab & menulisnya di kertas kecil untuk kelak dihapal selagi ulangan bersama dengan kata lain nyontek. Akhirnya selagi ulangan pun tiba.
Asep : “ Baiklah anak-anak, buka lembar soalnya se-se-sekarang “
Ririn    : “ Bismillah “ ( Membuka & mengisi soal)
Rio : “ Ini mah mudah “ ( Membuka soal ) ( Saat Asep berbalik menempelkan kertas di punggung Asep untuk menyontek )
Rio : “ Kalo gini kan ga akan ketahuan “ ( Ngisi )
Asep : “ Bapa terlihat dulu, jangan nyontek, jangan kerjasama, & jangan ribut “ ( Keluar )
Rio          : “ Rencana B “ ( Nyilang kaki & di alas sepatunya tersedia contekan )
Rio          : “ Ah. Bukan yang ini “ ( Buka busana penghabus di dalamnya tersedia contekan “
Rio          : “ Ah yang ini “ ( Nulis ) ( Ngeluarin contekan dari dasi )
Rio          : “ Ah yang ini terhitung “ ( Nulis )
Rio          : “ Berakhir “ ( Liat Ririn & yang lainnya tetap belum berakhir )
Akhirnya ulangan berakhir & tempo hari harilalu Asep membagikan hasil ulangan.
Asep    : “ Ini “ ( Membagikan )
Ririn : “ Ye. Kualitasku 85 “
Renal   : “ Hahaha. Aku ding 65, naik 5 dari ulangan yang lalu “
Rio          : “ Lah. Pak, kok mutu Saya 50? “
Asep    : “ Tersebut sebab soal nomer 11-20 di balik kertas ga anda mengisi “
Rio          : “ Aduh. Kok bapa ga kasih sadar Saya? “
Asep        : “ Kamu tersebut seharuslahny abisa sadar bersama dengan sendirinya, jangan serampangan “
Renata : “ Siap-siap terima perintahRirinaja “
Rio          : “ Iya deh iya “
Ririn        : “ Dengan ini Saya nyatakan Kamu tidak boleh nyontek kembali “
Asep        : “ Sehingga Kamu nyontek?. Kualitas Kamub apa kekurangani 6, sehingga mutu Kamu -1 “ (Mukul kepala Rio )
Akhirnya Rio tidak memakai langkah yang yang kotor lagi. Dirinya jadi lebih giat belajar &lebih waspada didalam mengisi soal.

TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *