Pengertian Geguritan

pengertian geguritan

pengertian geguritan – Pada zaman saat ini ini banyak yang beranggap bahasa Jawa itu susah, menjemukan dan kuno. Apa kalian terhitung punya anggapan yang sama? ambarisna.com berharap kalian jangan hingga mempunyai asumsi yang demikian dikarenakan bahasa Jawa itu bahasa yang adiluhung dan berisi nasehat-nasehat orang tua kami terdahulu. Oleh dikarenakan itu, kalian kudu merawat melestarikan bahasa Jawa sebagai bentuk rasa syukur kepada Gusti, supaya bahasa Jawa tidak dipelajari dan diakui oleh orang mancanegara.

Hasil karya sastra berbahasa Jawa banyak sekali, salah satunya yaitu geguritan. Mempelajari geguritan itu menyenangkan. Oleh karenanya, dalam kesempatan ini kalian diajak studi perihal geguritan. Apa definisi geguritan? Apa saja unsur pembangun geguritan? Bagaimana cara menulis dan membaca geguritan yang benar? Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari mencermati artikel di bawah ini.

Pengertian Geguritan

Geguritan adalah salah satu karya sastra jawa yang berbentuk puisi. Kata geguritan berasal berasal dari kata gurit yang punya arti tembang atau syair. geguritan merupakan bentuk berasal dari asumsi atau ide penulis. Bahasa yang digunakan dalam geguritan itu bahasa rinengga atau hiasan, figuratif yang indah serta berbentuk konotatif, simbolis, dan punya simbol atau sandi dikarenakan menggambarkan imajinasi penulisnya. Bahasa dalam buritan tidak terikat kaidah bahasa secara umum. Menulis geguritan mempunyai kelonggaran dan bebas berasal dari kaidah bahasa yang disebut lisensia puitika.

1) Unsur-unsur Pembangun Geguritan

Geguritan terhitung ciptaan atau karya sastra yang punya style baca tidak sama bergantung mengisi berasal dari geguritan tersebut. Ada yang menyebut geguritan itu syair jawa baru atau puisi jawa gagrak anyar. Unsur-unsur pembangun yang ada dalam geguritan ada dua yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik.pengertian geguritan

a. Unsur intrinsik

Unsur intrinsik geguritan adalah unsur yang dapat ditemukan dan diamati dalam geguritan tersebut. Unsur geguritan meliputi:

Tema yaitu persoalan utama yang diangkat di dalam geguritan.
Amanat yaitu pitutur, nasihat dan falsafah yang akan disampaikan penulis kepada pembaca.
Nada dan rasa yaitu rasa pangrasa atau perasaan yang dialami penulis yang dideskripsikan di dalam geguritan
Diksi yaitu penentuan kata yang indah dalam geguritan
Rima yaitu pengolahan suara untuk mewujudkan keindahan yang ada dalam geguritan
Ritmik atau ritme yaitu panjang pendek, tinggi rendahnya suara ketika geguritan itu dilisankan atau dibaca
Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik yaitu unsur pembangun geguritan yang berbentuk situasi subjektivitas penulis perihal cara pengiasan penulis serta dikarenakan musabab penulis menciptakan geguritan tersebut. Unsur intrinsik dapat berbentuk situasi social, psikologi, ekonomi lebih-lebih pendidikan berasal dari penulis tersebut. Singkatnya, unsur ekstrinsik adalah unsur yang melatarbelakangi penulis melahirkan karya sasta geguritan.

 

2) Ciri-ciri Geguritan

Untuk membedakan dengan karya sastra lain, geguritan mempunyai beberapa ciri tertentu. Ciri-ciri geguritan secara lazim yaitu

tidak punya atau memakai patokan/ pedoman tertentu.
bukan bahasa sehari-hari. Bahasa yang digunakan dalam geguritan bukanlah bahasa sehari-hari. Akan tetapi, perihal ini tidak jadi patokan khusus. Sebab, di zaman moderen ini banyak geguritan yang telah memakai bahasa sehari-hari.
menggunakan kata-kata yang terpilih atau pilihan diksi yang tepat.
jumlah baris tidak ditentukan. Berbeda dengan tembang atau syair macapat yang punya patokan, jumlah baris dalam geguritan lebih bebas.
isinya bermutu,
jarang memakai kata hubung

3) Jenis Geguritan

Berdasarkan bentuk bahasa, geguritan dibedakan jadi dua macam yaitu geguritan gagrak lawas (bentuk kuno) dan geguritan gagrak anyar (bentuk baru). geguritan gagrak lawas mempunyai ciri sebagai berikut.

Menggunakan pembuka sun anggurit atau sun gurit.
Jumlah baris tidak tidak cukup berasal dari 4
Jumlah suku kata satu dengan yang lainnya sama
Menggunakan purwakanthi swara atau memakai suara yang runtut

Adapun ciri geguritan gagrak anyar sebagai berikut.pengertian geguritan

terbagi jadi bait atau pada
setiap kata-kata ubah baris atau Gatra
kata yang digunakan atau kalimatnya ringkas
tema atau pokok cerita kesusahan dipahami
ada yang memakai purwakanthi dan ada yang tidak menggunakan
ekspresi dan perasaan penulis bebas

 

Berdasarkan jumlah kata atau kalimat, geguritan dibedakan jadi berikut.

Gita dwi gatra yaitu geguritan yang terbentuk berasal dari 2 baris tiap-tiap bait.
Gita tri gatra yaitu geguritan yang terbentuk berasal dari 3 baris tiap-tiap bait.
Gita catur gatra yaitu geguritan yang terbentuk berasal dari 4 baris tiap-tiap bait.
Gita Panca gatra yaitu geguritan yang terbentuk berasal dari 5 baris tiap-tiap bait.
Gita sad gatra yaitu geguritan yang terbentuk berasal dari 6 baris tiap-tiap bait.
Gita Sapta gatra yaitu geguritan yang terbentuk berasal dari 7 baris tiap-tiap bait.
Gita Hasta gatra yaitu geguritan yang terbentuk berasal dari 8 baris tiap-tiap bait.
Gita Nawa gatra yaitu geguritan yang terbentuk berasal dari 9 baris tiap-tiap bait.

 

4) Teknik Parafrase Geguritan

Pada dasarnya, tehnik parafrase geguritan maupun tembang itu sama. Untuk lebih jelasnya silakan lihat pengertian di bawah ini.

a) Pengertian Parafrasa

Parafrasa merupakan arti linguistik yang mempunyai arti menceritakan/menyampaikan lagi sesuatu teks/konsep dengan cara lain, dengan bahasa yang serupa tetapi tidak mengubah maknanya. Menurut KBBI, parafrasa adalah memberikan lagi salah satu teks dalam bentuk lain dengan maksud untuk menyebutkan arti yang tersembunyi. Kata parafrasa berasal berasal dari bahasa Inggris paraphrase dan bahasa Latin paraphrasis, yang artinya “cara tutur tambahan”. Parafrasis atau menarasikan punya arti cara membuat gancaran (prosa).pengertian geguritan

Untuk dapat membuat parafrase, para pembaca kudu sadar apa yang di maksud topik teks geguritan. Kemudian para pembaca kudu menemukan gagasan-gagasan tiap-tiap baris dalam satu bait. Kata tambahan yang kadang waktu berbentuk ilustrasi dapat diabaikan. pendek kata, bila memakai kutipan langsung atau kata-kata langsung dapat dirubah jadi tidak langsung. intinya bahasa yang ringkas.

b) Tata Cara Parafrase Geguritan

Secara lazim ada dua cara memparafrasekan geguritan. Kedua cara tersebut adalah sebagai berikut.

Membuat parafrasa terikat yaitu memengaruhi geguritan jadi bentuk gancaran atau prosa dengan cara meningkatkan lebih dari satu kata dalam geguritan tersebut. Hal ini dilakukan supaya baris kata-kata dalam geguritan mudah dimengerti. Semua kata-kata dalam geguritan masih utuh, tidak diganti atau dihilangkan dan selalu digunakan di dalam parafrasa tersebut.
Membuat parafrasa bebas yaitu memengaruhi geguritan jadi bentuk prosa dengan kata-kata pribadi. Adapun kata-kata yang awal mulanya ada dalam geguritan dapat digunakan dapat terhitung tidak. secara ringkas dapat disimpulkan sesudah membaca geguritan tersebut hingga selesai sesudah itu diceritakan lagi memakai bahasa pribadi/ sehari-hari.pengertian geguritan

Secara terperinci beberapa langkah nggancarake atau memparafrasekan geguritan seperti berikut.

a. Pembaca kudu sadar terutama dahulu arti geguritan yang akan digancarkan dengan cara pembacaan hermeneutik atau membaca berkali-kali hingga paham.
b. Mencari dan menemukan kata-kata yang berisi arti tidak langsung, majas (pasemon, pepindhan) perumpamaan, simbolik atau sejenisnya sesudah itu mengartikan kata-kata tersebut.
c. Menulis lagi kata-kata yang sengaja dihilangkan oleh penulis. Hilangnya kata disebabkan untuk menimbulkan keindahan bahasa dalam geguritan Walaupun demikian kata-kata yang hilang tadi tidak mengubah arti
d. Menyusun kata-kata dalam geguritan jadi gancaran atau prosa yang lengkap yang terdiri berasal dari kata-kata utuh atau sekurang-kurangnya punya subjek (jejer) predikat (wasesa).pengertian geguritan

Jika kami amati tata cara terebut, yang dimaksud paraprase tidak lain adalah mengganti geguritan yang berbentuk puisi jadi gancaran atau berbentuk prosa. Maksudnya adalah geguritan yang awal mulanya kudu bergantung terhadap aturan geguritan beralih jadi gancaran yang kudu ikut terhadap aturan gancaran atau prosa.

5) Teknik Membaca dan Menulis Geguritan
a. Teknik Membaca Geguritan

Geguritan dapat digunakan untuk memberikan mengisi hati dan menambahkan pesan, pengingat serta nasehat kepada yang membaca. Amanat geguritan akan lebih mudah dicari dengan cara diparafrase terutama dahulu. Seperti yang diungkapkan di atas, parafrase geguritan maksudnya adalah proses memengaruhi geguritan jadi bentuk gancaran atau paragraf dengan tujuan supaya arti geguritan lebih sadar dan gamblang. Dengan membaca atau mendengarkan geguritan kami bisa:

1. Menemukan arti yang ada dalam geguritan
2. Menentukan alasan yang menjadikan geguritan itu indah
3. Membuat uraian atau imajinasi kepada geguritan yang dibaca atau didengarkan

 

Yang kudu diperhatikan dalam melacak nasihat geguritan yaitu:

1. membaca naskah dengan cermat
2. mengira-ngira kata-kata yang dihilangkan sesudah itu mengembalikannya
3. memandang kecuali ada majaz (pasemon) atau perlambang yang digunakan
4. menafsirkan arti pasemon atau perlambang
5. merangkai kata-kata kata-kata berasal dari hasil penelitian dalam gancaran

Adapun yang berhubungan dengan tehnik membaca geguritan yaitu:

a. lafal yaitu mengucapkan kata dengan sadar atau benar
b. intonasi yaitu tinggi rendahnya suara nada
c. irama yaitu cepat pelannya pengucapan kata-kata
d. gestur yaitu gerakan tubuh mengikuti situasi yang dikehendaki berasal dari geguritan
e. mimik yaitu ekspresi muka yang cocok dengan mengisi geguritan tersebut.

 

Secara ringkas, Sebuah geguritan dapat dinilai dengan mencermati empat perihal berikut.

1. Wirama atau irama. Irama kudu diperhatikan ketika membaca guritan seperti keras pelan sadar atau samar dan lain sebagainya. ketika membaca geguritan yang punya arti stimulus kudu dengan suara keras, tidak sama ketika membaca geguritan yang berisi kesusahan kudu pelan, halus dan penuh rasa kasihan.
2. Wirasa atau situasi hati mengisi geguritan kudu dipahami maksud tujuannya. sesudah itu pas kami membaca kudu menyelaraskan dengan mengisi geguritan. Maksudnya adalah ketika susah, senang, wibawa, menyesal, marah, dan lain sebagainya kudu cocok wirasanya.
3. Wiraga atau obahing awak. Maksudnya berasal dari wiraga adalah ketika kami membaca geguritan, badan jangan kaku, luwes, santai, tidak dibuat-buat, menggerakkan anggota tubuh untuk membangun suasana. Mimik muka kudu selaras dengan mengisi geguritan tetapi biasa saja jangan keterlaluan.
4. Wicara atau lafal pelafalan. Ucapan kudu sadar ketika membaca aksara swara, suku kata dan kata.

 

b. Teknik Penulisan Geguritan

Setelah materi membaca selesai, saat ini kami menuju tehnik menulis geguritan. Adapun tehnik cara menulis geguritan adalah sebagai berikut.

Menentukan tema atau underane geguritan.
Memilih kata yang berisi dan punya bobot sastra
Menyusun kata-kata dengan ringkas, mebaginya dalam bait atau pada.
Menggunakan bahasa yang indah. kecuali diperlukan, dapat memakai purwakanthi basa atau sastra supaya sedap dibaca dan mudah dihafalkan untuk panyandra atau pepindhan.
Menggunakan tembung andhahan atau kata turunan yang memakai ater-ater, seselan atau dwilingga atau dwipurwa
setelah selesai, koreksi dengan membaca berulang kali. Hal ini digunakan untuk mengukur cocok tidaknya dengan tema. jangan hingga seperti prosa yang dipotong dan disusun jadi bait.
menggunakan judul yang bagus menarik perhatian para pembaca.
antara judul dan mengisi kudu semakna atau berkaitan.pengertian geguritan
6) Contoh Geguritan

Berikut ini, kami sampaikan lebih dari satu umpama geguritan.

Eling

Ainul Lela T.W

Kelingan pas isih cilik

Tansah gendong rono-rene

Tansah ngiringi awakku

Saben dina,saben wektu,lan saben tahun

Mbok,

Pituturmu kang alus

Bakal dakrungu

Kesabaranmu kang gede

Ora akan daklalekake

Matursuwun mbok,

Tresna lan pandongamu ora akan puput

Sliramu tansah ana ning ati

Mugi-mugi gusti tansah nyembadani

 

 

Ibu

Ainun Sonya

Ibu…

Rasa asih lan tresnamu

Tansah nancep ing atiku

Kesabaran kang ora ana batese

Ngadepi ndablegke anakmu iki

Ibu…

Menawa kalakuanku ala

piwelingmu tansah ngiringi

jasa lan pengorbananmu

nora dapat dak laliake

Ibu . . .

Mungkin aku ora akan dapat bales kabeh pengorbananmu

nanging aku mung dapat dunga

Marang Gusti Ingkang Kuwasa

Mugi tansah paring kesehatan

ugi paring rezeki

 

ILING MARANG ALAMMU

Aisyah Aufad

Ing jaman saiki

Kabeh wis padha ora peduli

Bisane mung mikir awake dhewe

Alam kang endah wis ora digagas

 

Alam kang asri ora tau dijaga

Alam kang lestari wis padha rusak

Mergo ulahe manungsa

Sing ora tanggung jawab

 

Bayangno alam kang ijo royo-royo

Saiki dadi ora karuan

Bayangno alam kang endah ciptaan sing kuasa

Saiki dadi ora kerumat

 

Ayo para manugsa saiki sadar

Pentinge jaga alam iki

Alam kang akeh manfaate

Alam kang iso nggugah stimulus urip

 

Puji syukur marang Gusti

Marang kaendahan alam kang diciptake

Sing kudu dijaga lan dirawat lestariane

Tanpa ngerusak lan ngilangke kaendahane

 

Sekolah

Aisyah Yulianti

 

Sekolah

Papan kanggo golek ilmu

Papan kang paling aku tresnani

Ing sekolah

Aku ketemu karo kanca-kancaku

Sing nggawe atiku bungah

Susah seneng dewe lakoni bareng

Ing sekolah

Aku ketemu ayah ibu guru

Kang ngajari aku kanthi sabar

Wektu sekolah akan tansah aku eling ing dina tuwaku

 

 

Indahing alamku

Ajeng Sekar P

 

Surya kang nyembul ing wayah esuk

Nyinari donya

Anggawe rasa tentrem

Ngawali esuk anuju kagambiran

Gunung gunung kan njulang

Ngawe awe ing angkasa

Suara nyanyi manuk manuk

Anggawe ati damai

Wit witan kang podo nari

Lan banyu kang lagi mili

Ngliwati lepen lepen cilik

Nambahake tentreming ati

Mula kui kami kudu akeh syukur

Marang Gusti Ingkang Maha Agung

Kita kudu jaga

Supaya alam iki tetep endah

 

KAENDAHAN ALAM

Akmal Nafis

Aku ngadeg ing dhuwur arga

Ngadeg ing ngisor langit

Ombak – ombak ning segara

Awan sing obah-obah

 

Alam, gawe aku tresna

Gawe aku betah marang kaendahanmu

Gusti, becik banget gawean Mu

Kula syukuri marang gawean Mu

 

Manungsa, aja nganti kowe rusak alam iki

Kebak sing butuh, kebak sing gelem

Matur nuwun Gusti

Marang alam sing endah iki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *