Penyakit Hati Dalam Islam

penyakit hati dalam islam

penyakit hati dalam islam – Terdapat dua type penyakit di dalam diri seorang manusia. Pertama adalah penyakit hati dan kedua adalah penyakit badan. Keduanya disebutkan di dalam Al-Qur’an. Adapun penyakit hati, terbagi kembali dua jenis, yaitu (1) penyakit syubhat (pemahaman dan analisis yang menyimpang) dan keragu-raguan; serta (2) penyakit syahwat (keinginan-keinginan yang terlarang).

Penyakit Hati Dalam Islam

Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala banyak menyatakan berkenaan kedua type penyakit ini. Lalu, bagaimana cara membedakannya, penyakit manakah yang Allah Ta’ala maksudkan di dalam konteks ayat tertentu?

Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bagaimanakah cara membedakan keduanya. Jika konteks sebuah ayat itu bicara tentang celaan kepada orang-orang munafik dan orang-orang yang menyimpang di dalam perkara agama, maka penyakit yang dimaksud adalah penyakit syubhat dan keragu-raguan. Namun jikalau konteks ayat itu menyatakan tentang maksiat atau kecondongan hati untuk berbuat maksiat, maka yang dimaksud adalah penyakit syahwat. (Lihat Al-Qawa’idul hisan, kaidah ke-33).penyakit hati dalam islam

Adapun perumpamaan penyakit syubhat dan keragu-raguan adalah firman Allah Ta’ala tentang orang-orang yang diseru untuk berhukum kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tetapi mereka berpaling. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ ؛ وَإِنْ يَكُنْ لَهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ ؛ أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ بَلْ أُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

”Dan andaikan mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, supaya Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba beberapa berasal dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jikalau ketetapan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah (ketidak-datangan mereka itu karena) di dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) kuatir kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. An-Nuur [24]: 48-50).penyakit hati dalam islam

Juga firman Allah Ta’ala tentang orang-orang munafik,

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ

“Di di dalam hati mereka ada penyakit.” (QS. Al-Baqarah [2]: 10)

Yaitu, penyakit keraguan-raguan dan syubhat sehingga mereka menentang risalah yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian sebagai hukumannya, Allah pun menambahkan penyakit ke di dalam hati mereka disebabkan oleh perbuatan mereka tersebut,

فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Lalu Allah tambah penyakitnya. Dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al-Baqarah [2]: 10)

Semakna dengan ayat di atas adalah firman Allah Ta’ala,

وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ

“Dan adapun orang-orang yang di di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu jadi tambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati di dalam kondisi kafir.” (QS. At-Taubah [9]: 125)

Demikian termasuk dengan firman Allah Ta’ala,

لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ

“Agar dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, amat di dalam permusuhan yang sangat.” (QS. Al-Hajj [22]: 53)

Penyakit type ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan agama, kurangnya kepercayaan di dalam hati, dan kurangnya keinginan untuk meraih apa yang Allah Ta’ala cintai dan apa yang Allah Ta’ala ridai. Hati yang sehat adalah hati yang mengenal kebenaran kemudian mengikutinya; termasuk mengenal kebatilan kemudian menjauhinya.

Contoh-contoh ayat berkenaan penyakit syahwat

Adapun penyakit syahwat, maka Allah Ta’ala berfirman,

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

”Wahai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jikalau kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) di dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit di dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab [33]: 32)

Yang dimaksud penyakit di dalam ayat selanjutnya adalah penyakit syahwat untuk berzina. (Lihat Zaadul Ma’aad, 4: 3)

Siapa saja yang mempunyai keinginan dan kecenderungan untuk berbuat maksiat, maka ketahuilah bahwa di di dalam dirinya terdapat penyakit syahwat. Karena andaikan hatinya sehat, maka tentu dirinya akan condong untuk beramal saleh, condong menuju ketakwaan dan kesucian jiwa. Sebagaimana yang Allah Ta’ala sifatkan di dalam firman-Nya,

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ ؛ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً

“Tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalur yang lurus. Sebagai karunia dan nikmat berasal dari Allah.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 7-8)

Manakah yang lebih berbahaya, penyakit hati atau penyakit badan?

Salah satu bentuk penyakit hati yang melanda umat Islam sementara ini adalah penyakit gawat kesyirikan. Penyakit ini menyerang hati manusia, di mana hati bergantung, cinta, takut, berharap, dan bertawakkal kepada selain Allah Ta’ala. Penyakit ini amat berbahaya, lebih berbahaya daripada penyakit kanker yang paling ganas. Sehingga terhadap zaman sekarang ini, di mana kesyirikan tersebar hingga ke pelosok-pelosok negeri, diiklankan di koran-koran dan televisi, sesungguhnya lebih diperlukan seorang “dokter” yang membuat sembuh penyakit ini dibandingkan dengan “dokter” yang membuat sembuh penyakit-penyakit badan.

Sungguh, orang yang meninggal sebab kanker di dalam kondisi mengenal dan mengamalkan tauhid serta hindari lawannya (yaitu syirik) itu lebih baik dan mulia daripada orang sehat tetapi berbuat kesyirikan dan tidak bertaubat hingga meninggal di hari tuanya. Lalu bagaimana kembali dengan kondisi orang sakit yang berbuat kesyirikan hingga matinya?

Penyakit yang menimpa badan dan jasad, penderitaan yang paling puncak adalah sekedar kematian. Namun andaikan penyakit selanjutnya menimpa agama seseorang, di mana dia berbuat kesyirikan, maka ia akan terancam untuk meraih hukuman penderitaan yang abadi, yaitu kekal di neraka. Wal ‘iyadhu billah!

Dan tidak ada obat untuk menghambat penyakit selanjutnya jikalau seseorang kudu mempelajari tauhid dan mengenal lawannya, yaitu syirik dengan segala perinciannya. Jangan hingga sebab kebodohan kita, kita terjerumus di dalam kesyirikan tanpa kita sadari. Oleh sebab itu, jelaslah bahwa pengetahuan tauhid merupakan pengetahuan yang amat penting, lebih penting daripada keperluan kita terhadap makanan dan minuman untuk menjaga kesegaran badan kita berasal dari penyakit. Sebagaimana kata Imam Ahmad rahimahullahu Ta’ala,

النَّاسُ إِلَى الْعِلْمِ أَحْوَجُ مِنْهُمْ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ. لِأَنَّ الرَّجُلَ يَحْتَاجُ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ فِي الْيَوْمِ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ. وَحَاجَتُهُ إِلَى الْعِلْمِ بِعَدَدِ أَنْفَاسِهِ

“Kebutuhan manusia terhadap pengetahuan itu melebihi kebutuhannya terhadap makan dan minum. Yang demikian itu sebab seseorang memerlukan makanan dan minuman sekali atau dua kali (dalam sehari). Adapun kebutuhannya terhadap pengetahuan itu sebanyak tarikan nafasnya.” (Kaifa tatahammasu li thalabil ‘ilmi syar’i, hal. 42)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *