Shalat Istikharah

shalat istikharah

shalat istikharah – Hidup ini adalah sebuah pilihan. Pilihan pada yang baik dan yang buruk, jalan yang benar atau jalan yang sesat. Pilihan pada yang berfungsi atau yang mudharat, yang menggembirakan dan yang menyedihkan, dan beragam pilihan-pilihan lain.

Maka tidaklah mengherankan jika kerap sekali dalam hidup, kita dihadapkan terhadap pilihan-pilihan yang terlampau penting. Bahkan melibatkan penentuan jaman depan kita sehingga kita dituntut dan harus mengakibatkan suatu pilihan yang pas dan terbaik.

Shalat Istikharah

Sebagai seorang muslim, kita seluruh pasti mengerti bahwa Allah adalah  Rabb Yang Maha Mengetahui dan Maha Menguasai segala-galanya. Baik yang telah terjadi, tengah terjadi, dan yang akan terjadi.

Sebaliknya, kita manusia adalah mahkluk yang lemah dan terbatas dalam segala hal. Karenanya, telah semestinya kita menyerahkan segala urusan kita kepada Allah dalam mengakibatkan pilihan yang terbaik menurut pengetahuan-Nya.

Banyak manusia yang mengakibatkan pilihannya berdasarkan ilmu mereka yang terbatas, dan terhadap akhirnya, banyak pula berasal dari mereka yang menyesal sesudahnya.

Allah telah mengingatkan di Al Quran dalam surah Al Baqarah ayat 216

وَ عَسٰۤی اَنۡ تَکۡرَہُوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ خَیۡرٌ لَّکُمۡ ۚ وَ عَسٰۤی اَنۡ تُحِبُّوۡا شَیۡئًا وَّ ہُوَ شَرٌّ لَّکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ وَ اَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ

Artinya:

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia terlampau baik bagimu dan boleh menjadi (pula) kamu menyukai semua, padahal ia terlampau jelek bagimu, Allah mengetahui, tengah kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah ayat 216).

Baik menurut kita, belum pasti baik menurut Allah, tetapi baik menurut Allah telah pasti baik untuk kita. Walaupun kebaikan itu tidak atau belum nampak oleh kita.

Kenyataannya, banyak perihal yang di awalnya kita anggap jelek atau tidak baik, tapi terhadap kelanjutannya kita beroleh perkara itu baik untuk kita. Sungguh, kebaikan itu tidak sanggup diukur bersama dengan hanya menggunakan akal manusia yang terbatas.

Kebaikkan itu tidak harus nampak dan sanggup kita rasakan bersama dengan segera. Kebaikkan adalah sesuatu yang terkait bersama dengan jaman depan yang jauh, tidak hanya untuk hari ini atau pas ini saja. Kebaikan adalah sesuatu berasal dari Allah.

Rasulullah bersabda:

“Sungguh, Allah akan berikan keberkahan terhadap seseorang yang banyak berdoa dalam hajat yang diinginkannya, baik Allah berikan apa yang dimintanya atau mencegahnya.” (HR.Baihaqi dan al-Khatib).

Dan, sebaik-baik doa adalah shalat. Maka berasal dari itulah, Islam menisyaratkan shalat spesifik untuk meminta petunjuk, yaitui bersama dengan melaksanakan shalat Istikharah.

Shalat Istikharah adalah shalat untuk meminta arahan berasal dari Allah mengenai apa yang terbaik bagi diri kita di jaman mendatang baik menyangkut urusan dunia dan agama.

 

Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Tidaklah rugi orang yang beristikharah, dan tidaklah menyesal orang yang bermusyawarah.” (HR.Thabrani).

Niat Shalat Istkharah

Semua tingkah laku di awali bersama dengan niat, terhitung terhitung dikala akan menjalankan shalat istikharah. Ketika berkenan melaksanakan shalat istikharah di awali bersama dengan membaca niat shalat istikharah sebagai berikut.

Bacaan Niat Shalat Istikharah
Bacaan Niat Shalat Istikharah Arab

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الاِسْتِخَارَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Bacaan Niat Shalat Istikharah latin

“Ushollii sunnatal istikhooroti rok’ataini lillaahi ta’aalaa”.

Arti Bacaan Niat Shalat Istikharah

“Aku bermaksud melaksanakan shalat sunnah istikharah dua rakaat sebab Allah Ta’ala.”

Tata Cara Shalat Istikharah

Menurut pendapat para ulama, shalat istikharah boleh berbentuk shalat sunnah apa saja. Baik itu berupa shalat sunnah rawatib, shalat sunnah tahiyatul masjid, shalat sunnah tahajud dan shalat sunnah lainnya.

Hal yang paling penting, setelah melaksanakan shalat sunnah dua rakaat, dilanjutkan bersama dengan berdoa kepada Allah. Dalam doa-nya ini menyebutkan pilihan yang harus dipilih sehingga beroleh pilihan yang terbaik.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضى الله عنهما قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ

Dari Jabir bin Abdullah Ra, berkata, “Rasulullah mengajarkan kepada kita cara mengerjakan shalat istikharah dalam segala urusan, sebagaimana Rasulullah mengajarkan kita Surat Al Qur’an.”

Rasulullah bersabda:

“Jika salah seorang di pada kalian hendak melaksanakan sesuatu, hendaklah terutama dahulu mengerjakan shalat dua rakaat tak hanya shalat fardlu, selanjutnya berdoa: ‘Ya Allah, memang aku memohon pilihan kepada-Mu bersama dengan ilmu-Mu…”

Berikut tata cara shalat istikharah

Tata cara shalat istkharah atau rukun shalat istikaharah mirip bersama dengan shalat harus atau shalat-shalat sunnah 2 rakaat lainnya. Berikut tata cara shalat istikharah yang terdiri berasal dari 2 rakaat.

Rukun Rakaat Pertama

Membaca Niat Sholat Istikharah
Membaca Takbiratul ihram, diikuti dengan bacaan doa iftitah
Membaca surat Al Fatihah
Membaca surat berasal dari Al Qur’an, diutamakan Surat Al Kafirun
Melakukan Ruku bersama dengan tuma’minah
Melakukan Itidal
Melakukan Sujud pertama
Duduk di pada dua sujud
Melakukan Sujud kedua
Berdiri ulang untuk menunaikan rakaat kedua

Rukun Rakaat kedua

Membaca surat Al Fatihah
Membaca surat berasal dari Al Qur’an, diutamakan Surat Al Ikhlas
Melakukan Ruku
Melakukan Itidal
Melakukan Sujud pertama
Duduk di pada dua sujud
Melakukan Sujud kedua
Duduk Tahiyat akhir
Mengucapkan Salam

Pada intinya tata cara shalat istikharah atau rukun shalat istikharah mirip bersama dengan tata cara shalat harus atau rukun shalat harus 2 rakaat.

Doa Shalat Istikharah

Setelah selesai melaksankan shalat istikharah disunnahkan untuk membaca doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah.

Adapun doa shalat Istikharah yang di baca setelah selesai shalat adalah sebagai berikut.

Bacaan Doa Shalat Istikharah Arab

اَللّٰهُمَّ اِنِّى اَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَاَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَاَسْئَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ. فَاِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَآاَقْدِرُ وَلَآاَعْلَمُ وَاَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللّٰهُمَّ اِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ اَنَّ هَذَااْلاَمْرَ (…) خَيْرٌلِّىْ فِىْ دِيْنِىْ وَمَعَاشِىْ فَاقْدُرْهُ لِىْ وَيَسِّرْهُ لِىْ ثُمَّ بَارِكْ لِىْ فِيْهِ وَاِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ اَنَّ هذَااْلاَمْرَشَرٌّلِّىْ فِىْ دِيْنِىْ وَمَعَاشِىْ وَعَاقِبَةِ اَمْرِىْ وَعَاجِلِهِ وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّىْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْهُ لِيَ الْخَيْرَحَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِىْ بِهِ

Bacaan Doa Shalat Istikharah Latin
“Allaahumma inni astakhiiruka bi’ilmika wa astaqdiruka biqudratika wa as aluka min fadlikal ‘aziimi fa innaka taqdiru wa laa aqdiru wa laa a’lamu wa anta ‘allaamul guyuub.”

“Allaahumma in kunta ta’lamu anna haadzal amro (…..) khairul lii fii diinii wa ma’aasyi faqdurhu lii wa yassirhu lii tsumma baarik lii fii hi wa in kunta ta’lamu anna haadzal amro syarrun lii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii wa ‘aajlihii fashrifhu ‘annii wasrifnii ‘anhu waqdurhu liyal-khaira haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bihi.”
Arti Bacaan Doa Shalat Istikharah

“Ya Allah, aku meminta arahan kebaikan-Mu bersama dengan ilmu-Mu, aku memohon keputusan-Mu bersama dengan qudrat-Mu dan aku meminta bersama dengan karunia-Mu yang besar, sebab memang Engkau yang berkuasa tetapi aku tida berkuasa. Engkau Yang Maha Mengetahui tetapi aku tidak mengerti dan Engkau Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.

“Ya Allah, kalau engkau ketahui bahwa (sebutkan Pilihan yang dihadapi) baik untukku dalam agamaku, kehidupanku, dan akhir berasal dari perkaraku ini, maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah ia, selanjutnya berkahilah aku padanya.”

“Ya Allah, dan kalau engkau mengerti jelek bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akhir berasal dari perkaraku ini, maka hindarkanlah aku darinya, lantas takdirkanlah untukku kebaikan bagaimanapun adanya, selanjutnya berilah aku keridhaan dengannya.” (HR. AhmadDan Bukhari).

Makna Doa Shalat Istikharah

Makna berasal dari doa shalat istikharah diatas adalah sebagai berikut:

1. Allaahumma inni astakhiiruka bi’ilmika

Allaahumma inni astakhiiruka bi’ilmika ( اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ) bermakna aku meminta arahan yang terbaik berasal dari dua perkaraku ini bersama dengan perlindungan ilmu-Mu yang meliputi segala sesuatu.

Sebab, Engkaulah yang lebih mengerti apa yang terbaik bagimu dan keduanya. Engkaulah Yang Maha Mengetahui total dan detail-detail kebaikan di pada keduanya.

Firman Allah terhadap Al Quran surah Al Baqarah ayat 216:

وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ وَ اَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ

Artinya:

“…Allah Mengetahui, tengah kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 216)

2. Wa’astaqdiruka

Wa’astaqdiruka ( وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ) bermakna aku meminta kepada-Mu bersama dengan qudrat-Mu (kekuasaan-Mu) yang sempurna.

Agar Engkau berikan kebolehan kepadaku untuk memudahkan urusanku, untuk memudahkan kebaikan itu kepadaku. Sesungguhnya, tidak tersedia daya dan kekuatan, jika bersama dengan pertolongan-Mu.

3. Wa’asaluka min fadhika

Wa’asaluka min fadhika ( وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ) bermakna aku meminta berasal dari karunia-Mu yang besar. Maksud berasal dari karunia adalah penentuan kebaikan perkara tersebut, kejelasannya, perlindungan kekuatan, dan kemudahan untuk menggapai kebaikan itu.

Hal ini berikan sinyal bahwa perlindungan berasal dari Allah adalah murni karunia dan anugerah dari-Nya. Tidak tersedia seorang hamba pun yang berhak atas nikmat-nikmat-Nya, sebab segala apa yang telah diusahakan oleh hamba adalah atas karunia dan nikmat-Nya.

4. Fa’innaka taqdiru walaa aqdiru

Fa’innaka taqdiru walaa aqdiru ( فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ) bermakna bahwa kesempurnaan kekuasaan itu hanya milik-Mu. Segala apa pun yang berlaku dan berlangsung terhadap diriku adalah atas kekuasaan, kehendak, dan ketetapan-Mu.

Sedangkan aku adalah makhluk lemah yang tak punya kebolehan dan kekuasaan apa pun. Aku tidak sanggup melaksanakan sesuatu, jika bersama dengan daya kebolehan dan kekuasaan-Mu.

Sesungguhnya, Engkau telah lebih berkuasa sebelum akan Engkau menciptakan kekuasaan itu terhadap diriku. Ketika Engkau mengimbuhkan kekuasaan itu, dan setelah Engkau mengaruniakan kekuasaan itu untukku.

5. Wata’lamu walaa ‘alamu

Wata’lamu walaa ‘alamu ( وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ) bermakna bahwa hakikat ilmu itu semata-mata milik-Mu. Segala apa pun yang berlaku dan berlangsung terhadap diriku adalah atas ilmu dan kesempurnaan pengetahuan-Mu.

Aku tidak sanggup mengerti sesuatu, jika bersama dengan karunia ilmu-Mu. Engkau telah lebih mengerti sebelum akan Engkau menciptakan ilmu itu terhadap diriku, dan setelah Engkau menciptakannya.

6. Wa anta ‘allaamul ghuyuub

Wa anta ‘allaamul ghuyuub ( وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ) bermakna Engkaulah Dzat Yang Maha Mengetahui segala perihal yang gaib, yang tersembunyi, dan yang rahasia.

Engkau Yang Maha Mengetahui tiap tiap urusan makhluk-Nya dalam segala segi, kebaikan dan keburukannya, kemudahannya dan kesulitannya, dunianya dan akhiratnya, dan lainnya.

Kalimat ini adalah penyempurnaan dan pengukuhan terhadap apa yang sebelumnya, yakni bahwa Engkaulah yang terlampau mengerti segala sesuatunya.

7. Allaahumma in kunta ta’lamu hadzal amra khairun lii fii diini

Allaahumma in kunta ta’lamu hadzal amra khairun lii fii diini ( اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ (…)  خَيْرٌ لِى فِى دِينِى ) bermakna jika memang perkara yang aku kehendaki ini (disebutkan perkaranya bersama dengan lisan atau di dalam hati) menurut ilmu-Mu baik untukku dalam agamaku

Kebaikan dalam agama bermakna perkara itu sanggup mendatangkan kemaslahatan dalam ibadah ketaatan kepada Allah dan tidak mengundang musibah dosa dan kemurkaan Allah.

Kalimat. “allahumma inkunta ta’lamu….” (ya Allah, jika Engkau mengetahui) sepintas barangkali agak membingungkan, sebab terkesan menyangsikan ke-Mahatahuan Allah.

Namun, arti yang diharapkan di sini adalahat-tafwidh (penyerahan diri kepada Allah Swt). Rela bersama dengan pengetahuan-Nya terhada perkara yang kita mintakan arahan kepada-Nya.

8. Wama’aasyi

Wama’aasyi ( وَمَعَاشِى ) bermakna perkara itu baik pula untuk kehidupan duniaku. Kebaikan dunia bermakna sesuatu yang mempunyai keberuntungan dan kesenangan dunia berupa bermacam-macam rejeki.

9. Wa’aaqibatu amrii

Wa’aaqibatu amrii ( وَعَاقِبَةِ أَمْرِى ) bermakna perkara itu baik pula untuk akhir berasal dari perkaraku. Akhir berasal dari perkara bermakna menyangkut jaman depan yang dekat dan yang jauh.

Masa depan yang dekat bermakna kehidupan mendatang yang akan dilalui. Sedangkan jaman depan yang jauh bermakna kehidupan di akhirat.

Kebaikan akhir dan perkara adalah perkara itu menghasilkan rahmat dan kenikmatan di jaman depan, baik di dunia maupun di akhirat.

10. Faqdurhu lii wayassirhu

Faqdurhu lii wayassirhu ( فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ ) bermakna jika perkara ini memang baik dalam kesemuanya itu, maka tetapkanlah ia untukku, siapkanlah ia untukku, dan mudahkanlah ia bagiku.

11. Tsumma baarik lii fiihi

Tsumma baarik lii fiihi ( ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ) bermakna lantas perbanyaklah kebaikan dan keberkahan dalam apa yang Engkau takdirkan dan mudahkan untukku itu.

12. Allaahumma wainkunta ta’lamu anna hadzal amra syarrun lii fii diinii

Allaahumma wainkunta ta’lamu anna hadzal amra syarrun lii fii diinii ( وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى ) bermakna jika perkara yang aku hendaki ini (disebutkan perkaranya bersama dengan lisan atau di dalam hati) menurut ilmu-Mu jelek untukku dalam agamaku.

Keburukan dalam agama bermakna perkara itu sanggup mendatangkan kemudharatan dan kerugian dalam ibadah ketaatan kepada Allah dan sanggup mengundang dosa dan juga siksaan-Nya.

13. Wama’aasyi

Wama’aasyi ( وَمَعَاشِى ) bermakna perkara itu jelek pula untuk kehidupan duniaku. Keburukan/kejelekkan dunia bermakna sesuatu yang mempunyai kerugian dan kesengsaraan hidup di dunia berasal dari segala perihal yang dibenci dan dihindari.

14. Wa’aaqibatu amrii

Wa’aaqibatu amrii ( وَعَاقِبَةِ أَمْرِى ) bermakna perkara itu jelek pula untuk akhir berasal dari perkaraku. Keburukan akhir perkara adalah perkara itu mengakibatkan kemurkaan Allah Swt. dan siksaan-Nya di jaman depan di dunia maiupun di akhirat.

15. Washrifhu ‘annii Fashrifnii

Washrifhu ‘annii Fashrifnii ( فَاصْرِفْهُ عَنِّىْ وَاصْرِفْنِيْ ) bermakna hindarkanlah ia (perkara itu) jauh-jauh dariku bersama dengan ketidakmampuanku untuk memperolehnya, kesulitanku untuk meraihnya, dan hilangnya hasratku untuk mencarinya.

16. Waqdur lii al-khaira khaitsu kaana tsumma radhdhiniibihi

Waqdur lii al-khaira khaitsu kaana tsumma radhdhiniibihi ( وَاقْدُرْهُ لِيَ الْخَيْرَحَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِىْ بِهِ ) bermakna takdirkanlah untukku kebaikan beserta kemudahannya, dimana pun dan kapan pun kebaikan itu ada. Lalu, berilah aku keridhaan dalam kebaikan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *