Watak Tembang Macapat

watak tembang macapat

watak tembang macapat – Tembang macapat merupakan bentuk ungkapan atau yang dilagukan dan dipaparkan dalam sebuah ‘pada’ atau paragraf. Yang terhitung dalam tembang macapat ada 11 model lagu yang masing-masingnya miliki ciri khas dan watak tersendiri.

Dalam tembang macapat, tidak ada lirik lagu yang tunggal atau baku untuk tiap-tiap judulnya. Setiap orang bisa saja mengakibatkan lirik lagunya sendiri, sepanjang lirik itu bisa mencukupi kaidah atau keputusan dari tembang macapat yang ada.

Yang kudu diperhatikan dalam tembang macapat adalah, meski tidak ada lirik tunggal yang baku, tetapi tembang ini miliki keputusan yang baku yang kudu dipenuhi terhadap tiap-tiap tembangnya. Berikut adalah karakateristik atau keputusan yang mengikat dalam suatu tembang macapat.

Sejarah Tembang Macapat

Tembang macapat membawa sejarah yang cukup rumit untuk diketahuinya.

Sedangkan secara umu sejarah macapat adalah saat merujuk kepada pendapat berasal dari Pegeud yang diketahui tercipta terhadap akhir masa berasal dari Kerajaan Majapahit atau sejak hadirnya pengaruh berasal dari Walisongo.watak tembang macapat

Hanya saja, pendapat berasal dari Pegeud dapat dikatakan jikalau cuma berlaku untuk tembang macapat di lokasi Jawa Tengah, karena di lokasi Jawa Timur dan Bali, sejarah macapat sudah diawali sejak sebelum akan datangnya Agama Islam.

Kajian Ilmiah sudah mengatakan bahwa ada dua pendapat yang tidak serupa perihal keberadaan macapat ini. Jika pendapat yang pertama mengatakan bahwa macapat lebih tua daripada tembang gede.

Sedangkan pendapat yang kedua mengatakan sebaliknya, jikalau pendapat itu ada terhadap pendapat yang lain perihal timbulnya macapat yang berdasarkan perkembangan bahasa.

Sedangkan yang berpendapat bahwa macapat lebih gampang berasal dari Tembang Gede beranggapan bahwa tembang macapat timbul terhadap waktu pengaruh kebudayaan Hindu yang semin menipis serta rasa kebangsaan jadi tumbuh terhadap zaman Majapahit akhir.

Lahirnya macapat yang menguntungkan dengan kidung, muncullah tembang gede yang berbahasa Jawa pertengahan, dan berikut muncul lagi tembang yang berhasa Jawa Baru serta di zaman Sukarta awal, timbullah tembang gede kawi miring.

Bentuk gubahan berbahasa Jawa baru yang banyak digemari adalah tembang kidung dan macapat. Proses pemunculan bermula berasal dari lahirnya karya-karya berbahasa Jawa pertengahan yang kebanyakan di sebut dengan kitab-kitab kidung.watak tembang macapat

Kemudian muncullah karya-karya berbahasa baru yang berwujud kitab-kitab suluk serta kitab-kitab niti. Kitab suluk serta kitab nitu memberikan sumbangan yang sangatlah besar terhadap perkembangan macapat.

 

terikat terhadap kaidah (kaiket dening wewaton (guru)), yang meliputi :
Guru gatra : kuantitas baris dalam satu bait (cacahing gatra/larik saben sapada).
Guru wilangan : kuantitas suku kata dalam satu baris (cacahing wanda saben sagatra)
Guru lagu : suara vokal terakhir di tiap barisnya (tibaning swara ing saben pungkasane gatra)

misal dalam tembang maskumambang miliki kaidah:

12i – 6a – 8i – 8a ; Artinya :

guru gatranya adalah 4 (baris per bait);

guru wilangannya adalah 12, (suku kata terhadap baris pertama) 6 (suku kata terhadap baris kedua), 8 (suku kata terhadap baris ketiga), 8 (suku kata terhadap baris keempat)

guru lagunya adalah ‘i’ terhadap baris pertama, ‘a’ terhadap baris kedua, ‘i’ terhadap baris ketiga, dan ‘a’ terhadap baris keempat.

 

Sehingga tidak benar satu contoh ragam tembang maskumambang adalah:

Kelek-kelek biyung sira aneng ngendi

Enggal tulungana

Awakku kecemplung warih

Gulagepan wus meh pejah

Menggunakan bhs jawa baru dan disisipi bhs jawa kuno (Basane Jawa anyar, diseseli basa Jawa kuna (kawi)).
Berisi perihal nasehat, sopan santun, dongeng, cerita wayang, dan sejenisnya (Isine bab pitutur, kasusilan, dongeng, kaprajan wayang, lsp).

 

Watak ‘Tembang Macapat’

Masing-masing tembang macapat memang miliki ciri khas dan wataknya masing-masing. Bila dirangkaikan jadi satu, tembang macapat ini merupakan bentuk deskripsi dari perjalanan hidup manusia, yang diawali dari dalam takaran ibu, sampai manusia itu ulang menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Ada 11 model atau golongan dari tembang macapat bersama karakternya masing-masing, yang terhadap dasarnya saling tentang secara runtut. Runtutan kisah dari tembang macapat, sebagai berikut:

1.      Maskumambang

Maskumambang menceritakan awal mula perjalanan hidup manusia yang masih berwujud embrio di dalam takaran ibunya, yang masih belum diketahui jati dirinya atau apakah dia laki-laki atau perempuan. Maskumambang berasal dari kata ‘mas’ dan ‘kumambang’. Kata ‘mas’ artinya masih belum diketahui laki-laki atau perempuannya, dan kata ‘kumambang’ artinya hidup yang masih mengambang tergantung di alam takaran sang ibu.

Maskumambang miliki kaidah / Wewaton : 12i – 6a – 8i – 8o

 

2.      Mijil

Mijil melukiskan sebuah biji atau benih yang telah lahir ke dunia. Perjalanan seorang anak manusia yang masih suci yang masih butuh perlindungan.

Tembang mijil miliki kaidah / Wewaton : 10i – 6o – 10e – 10i – 6i – 6o

3.      Kinanthi

Kinanthi berasal dari kata ‘kanthi’ yang artinya menggandeng atau menuntun. Dalam kinanthi dikisahkan kehidupan seorang anak yang masih kudu untuk dituntun sehingga bisa terjadi bersama baik di dunia ini. Tuntunan yang dibutuhkan seorang anak tidak hanya untuk belajar berjalan, melainkan terhitung tuntunan dalam beragam norma dan adat yang berlaku dan harusnya dipatuhi dalam berkehidupan.

Tembang Kinanthi miliki kaidah / Wewaton: 8u – 8i – 8a – 8i – 8a – 8i

 

4.      Sinom

Sinom artinya pucuk yang baru tumbuh atau bersemi. Sinom melukiskan seorang manusia yang beranjak dewasa atau dalam langkah jadi pemuda / remaja. Tugas seorang remaja yang tengah bersemi adalah untuk menuntut ilmu sebaik dan setinggi bisa saja untuk bekal kehidupannya kelak.

Tembang Sinom miliki kaidah / Wewaton: v  8a – 8i – 8a – 8i – 7i – 8u – 7a – 8i – 12a

 

5.      Asmarandana

Asmarandana berasal dari kata ‘asmara’ yang bisa diasumsikan sebagai cinta kasih. Asmarandana mengisahkan perjalanan hidup manusia yang telah waktunya untuk memadu kasih bersama pasangan hidupnya, dikarenakan ini adalah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menciptakan manusia berpasangan-pasangan.

Tembang Asmarandana miliki kaidah / Wewaton :  8i – 8a – 8e – 7a – 8a – 8u – 8a

 

6.      Gambuh

Gambuh artinya menyambungkan. Gambuh melukiskan perjalanan hidup seseorang yang disaat telah menemukan pasangan hidupnya yang cocok, maka keduanya bisa dipertemukan untuk menjalin ikatan yang lebih sakral dalam pernikahan sehingga keduanya bisa miliki kehidupan yang langgeng.

Tembang Gambuh miliki kaidah / Wewaton :  7u – 10u – 12i – 8u – 8o

 

7.      Dhandanggula

Dhandanggula berasal dari kata ‘dandang’ dan ‘gula’ yang artinya suatu hal yang manis. Dhandanggula melukiskan kehidupan pasangan baru yang tengah berbahagia dikarenakan telah memperoleh apa yang dicita-citakan. Kehidupan yang lebih baik bersama keluarga adalah hal yang benar-benar membahagiakan.

Tembang Dhandanggula miliki kaidah / Wewaton : 10i – 10a – 8e – 7u – 9i – 7a – 6u – 8a – 12i – 7a
Contoh Tembang Dhandanggula

 

8.      Durma

Durma artinya pemberian. Tembang durma melukiskan kehidupan yang suatu waktu bisa mengalami duka di balik suka, selisih atau kekurangan sesuatu. Karenanya, kehidupan haruslah saling berikan suatu hal dan saling melengkapi satu serupa lain sehingga seimbang. Pelajaran hidup adalah mengajarkan untuk saling menolong kepada siapa saja bersama ikhlas kepada sesama.

Tembang Durma miliki kaidah / Wewaton : 12a – 7i – 6a – 7a – 8i – 5a – 7i
contoh Tembang Durma

 

9.      Pangkur

Pangkur berasal dari kata ‘mungkur’ yang artinya pergi atau meninggalkan. Tembang pangkur melukiskan kehidupan yang harusnya bisa menghindari udara nafsu dan angkara murka. Jadi, disaat mendapati suatu hal yang tidak baik lebih baik pergi menghindar. Pangkur terhitung melukiskan seseorang yang telah merasa kudu meninggalkan keduniawian dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

Tembang Pangkur miliki kaidah / Wewaton :  8a – 11i – 8u – 7a – 8i – 5a – 7i

 

10.  Megatruh

Megatruh berasal dari kata ‘megat’ dan ‘roh’, yang artinya putus rohnya atau telah terlepas rohnya. Megatruh melukiskan kehidupan manusia yang telah usai di dunia ini dikarenakan telah saatnya untuk ulang menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tembang Megatruh miliki kaidah / Wewaton : 12u – 8i – 8u – 8i – 8o

 

11.  Pocung

Pocung berasal dari kata ‘pocong’ yang melukiskan disaat seseorang telah meninggal maka akan dibungkus bersama kain putih atau dipocong sebelum akan dikebumikan. Ini jadi sebuah ritual untuk membebaskan kepergian seseorang .

Tembang Pocung miliki kaidah / Wewaton : 12u – 6a – 8i – 12a

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *